1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (232 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 28 September, 2008 - 10:00 AM

Tangible vs Intangible Assets

Ketika saya diminta membantu pengembangan bisnis dari para pelaku Usaha Kecil dan Menengah atau UKM, saya coba memberikan pengertian hal penting, yang sebagian besar para pebisnis UKM ini masih belum NGEH, gak MUDHENG, atau belum PAHAM, karenanya sering menganggap remeh, yaitu TANGIBLE dan INTANGIBLE ASSETS, atau ASET BERWUJUD dan TIDAK BERWUJUD.

“Semua bisnis pasti memiliki Aset”, saya memulai penjabarannya ke teman-teman pebisnis UKM. Menganalisis aset perusahaan sangat penting untuk menghitung penilaian perusahaan, dan pada saat yang sama, juga penting untuk memahami perbedaan antara Aset Berwujud dan Tidak Berwujud dari perusahaan dan bagaimana membuat penilaiannya.

Tujuan mendefinisikan Aset sebagai Tidak Berwujud atau Berwujud adalah untuk mendorong keputusan bisnis yang efisien, memastikan penilaian perusahaan, dan memungkinkan perusahaan untuk mengeksploitasi, memanfaatkan, dan menikmati manfaat dari memiliki aset. ASET dapat dibagi menjadi dua kategori: BERWUJUD dan TIDAK BERWUJUD. Memahami perbedaan antara ASET BERWUJUD dan TIDAK BERWUJUD adalah sangat penting, agar pembukuan akuntansi dan laporan keuangan Anda tetap akurat.

ASET BERWUJUD vs TIDAK BERWUJUD

Aset Berwujud maupun Tidak Berwujud itu menambah nilai bisnis Anda. Aset Berwujud adalah properti fisik sedangkan Aset Tidak Berwujud adalah properti non fisik. Perbedaan antara aset berwujud dan tidak berwujud ini memengaruhi cara Anda membuat neraca bisnis.

Assets

ASET BERWUJUD

Aset Berwujud adalah barang fisik yang menambah nilai bisnis Anda. Aset Berwujud meliputi uang tunai, tanah, peralatan, kendaraan, dan inventaris.

Aset berwujud adalah aset yang memiliki keberadaan fisik dan dapat dirasakan, disentuh, dan dilihat. Aset berwujud terlibat dalam operasi bisnis perusahaan dan membantu bisnis untuk memproduksi, mendistribusikan produk dan layanannya. Karena aset berwujud dibeli dengan harga yang dapat diukur, jauh lebih mudah menilai aset berwujud jika dibandingkan dengan aset tidak berwujud.

Beberapa contoh aset berwujud termasuk tanah dan bangunan, pabrik dan mesin, mobil, furnitur dan perlengkapan, inventaris, dll. Perlu dicatat bahwa aset ini terdepresiasi atau terjadi penyusutan, seiring waktu dan kehilangan nilai moneternya.

Aset Berwujud bisa ada Depresiasi (Penyusutan). Penyusutan atau Depresiasi adalah proses mengalokasikan biaya aset berwujud selama masa manfaatnya. Masa manfaat aset adalah lamanya aset menambah nilai bagi bisnis Anda. Umumnya, aset berwujud akan kehilangan atau berkurang nilainya setelah satu tahun.

Aset Berwujud dapat dibagi lagi menjadi dua kategori: Aset Lancar dan Aset Tetap.

Aset Lancar adalah barang yang dapat dengan mudah diubah menjadi uang tunai dalam waktu satu tahun. Aset ini lebih likuid daripada aset tetap. Kas, inventaris, dan piutang adalah contoh aset lancar.

Aset Tetap adalah aset jangka panjang yang tidak dapat dengan mudah diubah menjadi uang tunai dalam satu tahun. Bangunan, tanah, dan peralatan adalah contoh aset tetap.

ASET TIDAK BERWUJUD

Tidak seperti Aset Berwujud, Aset Tidak Berwujud adalah item non fisik yang menambah nilai bisnis Anda. Aset Tidak Berwujud adalah aset perusahaan yang tidak mempunyai wujud atau karakter fisik apapun. Meskipun demikian, ini sangat penting untuk kelangsungan operasi bisnis perusahaan dan harus dimasukkan ke dalam neraca perusahaan. Aset tidak berwujud dapat memiliki umur simpan yang terbatas, atau pun tidak terbatas, tergantung pada sifat aset tidak berwujud tersebut. Beberapa contoh aset tidak berwujud termasuk goodwill (niat baik), kontrak, perjanjian non-persaingan, nama merek, hubungan pelanggan, kekayaan intelektual seperti hak cipta, paten, merek dagang, dll.

Beberapa contoh aset tak berwujud periode terbatas termasuk paten, perjanjian non-persaingan, kontrak, dll. Karena memiliki tanggal kedaluwarsa dan nilainya turun menjadi nol setelah kedaluwarsa. Aset Tidak Berwujud tak terbatas termasuk nama merek, merek dagang, niat baik, dll. Karena tidak memiliki umur simpan dan dapat bertahan sepanjang masa perusahaan.

Aset Tidak Berwujud, tidak mudah untuk diubah menjadi uang tunai. Mereka kurang likuid dibandingkan dengan Aset Tetap.

Biaya Aset Tidak Berwujud sulit ditentukan, karena bukan merupakan barang fisik. Misalnya, tidak ada label harga pada nilai logo perusahaan Anda.

Aset Tak Berwujud bisa ada Amortisasi. AMORTISASI adalah proses mengalokasikan biaya aset tidak berwujud selama masa manfaatnya.

DEPRESIASI (Penyusutan) dan AMORTISASI

Depresiasi dan Amortisasi memberikan gambaran yang lebih akurat tentang keuangan perusahaan Anda. Proses ini menghabiskan biaya besar selama beberapa tahun.

Akuntansi untuk Aset Tidak Berwujud dan Aset Berwujud menjadi rumit ketika Anda memperhitungkan depresiasi dan amortisasi untuk aset jangka panjang. Sekali lagi, Anda mendepresiasi aset berwujud dan mengamortisasi aset tak berwujud.

Buatlah daftar biaya depresiasi dan amortisasi pada laporan laba rugi Anda.

Seperti aset, biaya depresiasi dan amortisasi meningkat dengan debit dan dikurangi dengan kredit.

DEPRESIASI

Ada dua metode depresiasi yang dapat Anda gunakan, yaitu depresiasi garis lurus dan depresiasi akselerasi atau dipercepat. Depresiasi Garis Lurus membagi biaya aset secara merata (membagi total biaya dengan masa manfaatnya), sementara Depresiasi Akselerasi atau yang Dipercepat, mengurangi persentase yang lebih tinggi dalam beberapa tahun pertama, kemudian lebih sedikit di kemudian hari.

Membuat neraca untuk biaya depresiasi atau penyusutan, Anda harus mendebit akun biaya depresiasi dan mengkredit akun depresiasi terakumulasi Anda.

Misalkan Anda membeli kendaraan seharga Rp.200.000.000 dengan masa manfaat lima tahun. Dengan menggunakan Penyusutan Garis Lurus, maka bagilah biaya dengan masa manfaat. Ini memberi Anda beban penyusutan tahunan sebesar Rp.40.000.000.

Sedangkan jika menggunakan pendekatan Depresiasi Akselerasi atau yang Dipercepat, Anda bisa memperkirakan berapa besaran persentasi untuk dikurangkan sebagai Penyusutannya, yang lebih besar pada beberapa tahun pertama, tentunya dengan pertimbangan tingkat aktivitas penggunaan kendaraan operasional perusahaan Anda, misalnya selama 2 tahun pertama pembelian. Kemudian lebih mengecil persentasinya pada 3 tahun berikutnya.

AMORTISASI

Cara kerja AMORTISASI mirip dengan penyusutan atau depresiasi. Anda dapat menemukan biaya amortisasi dengan membagi biaya aset tidak berwujud dengan masa manfaatnya.

Kemudian, buat entri jurnal yang menunjukkan berapa biaya amortisasi tahunan Anda. Debit akun biaya amortisasi Anda dan kreditkan akun aset tidak berwujud.

Misalkan Anda membeli paten dengan masa manfaat 20 tahun seharga Rp.20.000.000. Setelah membagi biaya dengan umur (Rp.20.000.000 / 20), maka biaya amortisasi tahunan Anda adalah Rp.1.000.000.

ASET dan PAJAK

TANGIBLE dan INTANGIBLE ASSETS, atau ASET BERWUJUD dan TIDAK BERWUJUD ini juga dapat menguntungkan bisnis Anda pada saat laporan pajak. Anda dapat mengurangi kewajiban pajak Anda melalui Depresiasi dan Amortisasi. Depresiasi dan Amortisasi adalah potongan pajak yang dapat Anda klaim.

KEMUDAHAN LIKUIDASI

Aset Berwujud dapat dilikuidasi dengan lebih mudah dibandingkan dengan aset tidak berwujud. Ini karena lebih mudah menilai aset berwujud karena memiliki keberadaan fisik, dan kepemilikannya dapat dengan mudah dialihkan. Sementara itu, sulit untuk melikuidasi Aset Tidak Berwujud karena sulit untuk mendapatkan nilainya, dan karena tidak memiliki keberadaan fisik, aset tidak berwujud tertentu seperti nilai merek, loyalitas pelanggan sulit untuk dijual karena mungkin tidak memiliki efektivitas dan nilai yang sama. ke perusahaan lain dibandingkan dengan pemilik aslinya.

PENENTUAN NILAI

Sangat mudah untuk menentukan Nilai Aset Berwujud karena memiliki biaya pembelian tetap dan tingkat depresiasi yang telah ditentukan sebelumnya, yang membuatnya lebih mudah untuk menilai aset berwujud selama periode waktu tertentu. Sedangkan Aset Tidak Berwujud, itu dinilai dengan kemungkinan keuntungan ekonomi yang dapat diperolehnya kepada pemilik aset, yang dapat bersifat subjektif. Dan bagi investor yang berbeda, mungkin akan berbeda pula pandangan mereka dalam menilai aset tidak berwujud.

Contoh Industri dengan Jumlah Aset Tak Berwujud yang Tinggi

Sektor Teknologi

Perusahaan yang beroperasi di sektor teknologi memiliki sejumlah besar paten, nilai merek, hak cipta, penelitian dan pengembangan, dan karyawan penting sebagai beberapa aset tidak berwujudnya.

Hiburan dan Industri Media

Media dan perusahaan hiburan memiliki banyak aset tidak berwujud yang mencakup personel berbakat yang esensial, hak penerbitan, hak cipta, hak konten, distribusi eksklusif dan hak artis, dll.

Produk dan Layanan Konsumen

Banyak perusahaan warisan dalam industri produk dan layanan konsumen memiliki beragam aset tidak berwujud seperti paten, formula dan resep rahasia, pengenalan merek, loyalitas pelanggan, dll.

Sektor Kesehatan

Industri perawatan kesehatan dan farmasi memiliki beberapa aset tidak berwujud seperti paten, nama merek, penelitian dan pengembangan, karyawan yang berharga, dll.

Industri Mobil

Industri otomotif memiliki beberapa aset tidak berwujud yang meliputi paten, penelitian dan pengembangan, nama merek, dll. Misalnya, nilai nama merek seperti Ferrari, Corvette, Mustang, dll. Bernilai miliaran dolar.

Nah Sahabat Pebisnis UKM

Aset berwujud memiliki keberadaan fisik dan dapat bersifat jangka pendek atau panjang. Sedangkan aset tidak berwujud, tidak memiliki keberadaan fisik tetapi bersifat intelektual atau eksklusif. Baik aset tidak berwujud maupun berwujud perlu untuk diposting dan dicatat di bagian aset di neraca perusahaan Anda.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (232 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *