1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (195 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 07 August, 2010 - 10:10 AM

Mencoba Memaknai KEJAWEN

Kejawen dipandang sebagai Ilmu ajaran-ajaran utama, yaitu membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang baik.

Kejawen itu sejatinya bukanlah agama, juga bukan pula yang sering dikelirukan dengan sebutan aliran kepercayaan.

Kejawen adalah Panggilan Jiwa Jawa Jawata, tata cara atau aturan, yang lahir dari diri sejati.

Kitab Kejawen adalah Alam Semesta.

Oleh karena itu, Kitab Kejawen itu tidak dituliskan, karena begitu luasnya jagad gumulung, dan jagad gumelar.

Kejawen yang ditulis itu lebih berbentuk tembang-tembang (lagu Jawa) atau geguritan (puisi Jawa) yang disusun oleh pujangga-pujangga kerajaan.

Kejawen itu ajaran orang tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan sesama makhluk ciptaanNya. Supaya bisa selaras dalam menjalani kehidupan di dunia dan juga setelahnya. Pada dasarnya, ajaran Kejawen memang mendorong manusia untuk tetap taat dengan Tuhannya.

Kejawen adalah pancaran atau pangejawantahan budi manusia Jawa, yang merangkum kemauan, cita-cita, ide, maupun semangatnya dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan lahir batin.

Dari naskah-naskah kuno Kejawen, tampak betapa Kejawen lebih berupa seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi orang-orang Jawa. Yang mana, itu tidak terlepas dari spiritualitas suku Jawa.

Kejawen adalah pengetahuan falsafah, mengajarkan tentang Jawa yang berarti mengerti atau memahami.

Ada 3 hal pokok dalam Ajaran Kejawen, yaitu:

i. Mengerti siapa Penciptanya (sangkan paraning dumadi)

ii. Mengerti siapa diri sejatinya (sangkan paraning diri)

iii. Mengerti alam semestanya (sangkan paraning jagad).

Orang-orang yang telah mengerti ketiga hal pokok di atas, serta menjalankan dengan kesungguhan hati & mengerti Tuhan yang disembah (sangkan paraning manembah), itulah sejatinya orang Jawa, yaitu orang berbudi luhur. Orang Jawa dalam menjalani kehidupannya selalu berpegang pada keseimbangan.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keEsaan Tuhan yang menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu memahami Sangkan Paraning Dumadi untuk menuju hakikat Manunggaling Kawula klawan Gusti. Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

  • Amemayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  • Amemayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
  • Amemayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  • Amemayu Hayuning Bhawana (sebagai rahmat bagi alam semesta)

Ajaran Kejawen itu bermakna “Kareben dadi wong Jawa” (agar menjadi orang yang tahu dan mengerti).

Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan atau pamrih akan mendapat pahala atau surga, dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk kemuliaan hidup sejati.

Ajaran Kejawen memandang bahwa rasa syukur kepada Gusti Yang Maha Tunggal melalui sembahyang atau ucapan saja tidaklah cukup. Melainkan lebih utama itu harus dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna.

Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik dan tidak tahu diri. Penting dimengerti adalah karena menyembah Tuhan itu sebuah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan.

Kejawen itu lelaku yang harus dijalani, kemudian bisa dipahami. Kejawen itu pola hidup, pola pikir dan lelaku.

Kejawen adalah cara berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, yang dianut oleh orang Jawa sejak masa lampau

Falsafah Kejawen “Manunggaling Kawula klawan Gusti” atau “Muksa” … Mukti Utamaning Manungsa, mati kang sampurna, serta gaya hidup, seperti gotong royong, tepa salira (saling menghargai), dll.

Kejawen itu kepercayaan yang dianut oleh orang Jawa, berisi falsafah hidup orang Jawa, berbagai macam budaya dan adat, serta ritual orang Jawa.

Kejawen itu ajaran filsafat orang Jawa, anggone nganggep, nintingi, mangerteni lan nglakoni jlantarane uripe klawan gegandhengane dadi kawula ing alam dunya, lan Gusti Sing Nyiptakne dunya.

Teringat wejangan Ayah saya dulu, saat saya minta beliau membeberkan apa itu makna terdalam dari Jawa:

“Jawa ta? Ngomong bab Jawa, apa kowe wis njawa tenan?  Jawa kuwi tegese mudheng, ngerti, paham. Jawa kuwi ora medhit. Jawa kuwi seneng kabecikan, seneng weweh, seneng tetulung wong kesrakat. Jawa kuwi ‘nggon Jawata’…!”

Begitulah wejangan Ayahanda yang masih terekam dalam pikiran saya. Singkat, padat, dan terasa filosofis. Kalau di-Indonesiakan, kalimatnya menjadi begini: “Jawa ya? Bicara soal Jawa, apa kamu telah paham benar? Jawa itu artinya tidak bingung, bisa mengerti, bisa memahami. Jawa itu senang berbuat bajik, suka memberi, suka menolong orang yang teraniaya. Jawa itu ‘hunian Dewa’…!” Dan, jika benar demikian, pantaslah kalau ada yang bilang bahwa Tuhan memang Maha Jawa..!

Hal ini juga mencakup semua aspek kehidupan, budaya, budi pekerti, spiritual yang mandiri, dan tidak pernah mengharap pahala dari orang lain, semata berharap hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa

Rahayu…

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (195 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *