1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (192 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 01 September, 2010 - 8:00 AM

Hakikat Tuhan dan Tirakat Kejawen

Ajaran Kejawen juga meyakini penyatuan Tuhan dengan ciptaanNya. Mereka menempuh beberapa cara dalam melakukan pencarian hakikat ketuhanan. Seseorang harus menjalani sejumlah laku atau ritual agar mengalami sebuah puncak pengalaman religius yang disebut Manunggaling karsa Kawulo lan karsa Gusti, atau Manunggaling Kawula lan Gusti.

Dalam budaya Jawa, Syekh Siti Jenar yang terkenal dengan gagasan ‘manunggaling kawula lan gusti’, merupakan satu tokoh yang tidak dapat dilepaskan dari munculnya ajaran Kejawen.

Intinya, ajaran Kejawen mengajarkan manusia pada apa yang disebut ‘Sangkan Paraning Dumadhi’ (kembali kepada sang pencipta). Kemudian membentuk dan mengarahkan manusia untuk sesuai dengan Tuhannya (manunggaling kawula lan gusti). Bahwa setiap manusia harus bertindak sesuai dengan tindakan dan sifat Tuhan.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka orang Jawa biasa melakukan ’laku’ atau tindakan untuk membentuk pribadi yang sesuai dengan Tuhan. Diantaranya adalah dengan melakukan ‘pasa’ atau berpuasa dan juga ‘tapa’ atau melakukan pertapaan. Disinilah letak Kejawen sebagai bentuk spiritualitas suku Jawa.

Pencarian hakikat Tuhan itu juga tertulis dalam Kidung Dandanggula berikut ini:

ana pandhita akarya wangsit, mindha kombang sangajab ing tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing kangkung, watesane langit jaladri, isining wuluh wungwang lan gigiring punglu, tapaking kuntul anglayang, manuk miber uluke ngungkuli langit, kusuma njrah ing tawang.

ngambil banyu apikulan warih, amek geni sami adadamar, kodhok ngemuli elenge, miwah kang banyu den khum kang dahaan murub kabesmi bumi pinetak ingkang pawana, katiyub, tanggal pisan kapurnaman yen anenun sonteg pisan anigesi kuda ngrap ing pandengan.

ana kayu apurwa sawiji, wit buwana epang keblat papat, agedhong mega tumembe, apradapa kukuwung, kembang lintang sagaar langit, sami andaru kilat, woh surya lan tengsu,asirat bun lawan udan, apupuncak akasa bungkah pertiwi, oyode bayu bajra.

wiwitane duk anemu candhi, gogodhongan miwah wawarangkan, sihing hyang kabesmi kabeh, tan ana janma kang wruh yen weruho purwane dadi, candhi sagara wetan, ingobar karuhun, kahyangane sanghyang tunggal, sapa reke kang jumeneng mung hartati, katong tengahing tawang

gunung agung sagara sarandil, langit ingkang amengku bawana, kawruhana ing artine ,gunung sagara umung, guntur sirna amengku bumi, rug kang langit bawana, dadya weruh iku, mudya madyaning ngawiyat, mangasrama ing gunung agung sabumi, candhi candhi sagara.

gunung luhure kabiri giri, sagara agung datanpa sama, pan sampun kawruhan reke, artadaya puniku datan kena cinakreng budi, aging sampung prapta ing kuwasanipun angadeg tengahing jagad, wetan kulon lor kidul ngadhap myang nginggil, kapurba wisesa.

bumi sagara gunung myang kali sagunging kang isining bawana, kasor ing artadayane, sagara sat kang gunung, guntur sirna guwa samya nir, singa wruh artadaya, dadya teguh timbul,lan dadi paliyasing prang, yen lulungan kang kapapag wedi asih, sato galak suminggah.

jim peri prayangan samya wedi mendhak asih sakehing drubiksa, rumeksa siyang dalune, singa anempuh lumpuh, tan tumama ing awak mami, kang nedya tan raharja, kabeh pan linebur, sakehe kang nedya ala, sirna kang nedya ebcik basuki, kang sinedya waluya.

siyang ndalu rineksa hyang widi, dinulur saking karseng hyang sukma, kandhep ing jalma kabeh, apan wikuning wiku wikan, liring pujasamadi dadi sasedyanira mangunah linuhung paparah hyang tegalana, sampen yen tuwajuh jroning ati, kalis ing pancabaya.

yen kinarya atunggu wong sakit, ejim setan datan wani ngambah rineksa malaekate, nabi wali angepung, sakeh lara samya sumingkir, ingkang nedya mitenah, maring awak ingsun, rinusak dening pangeran, eblis laknat sato mara padha mati, tumpes tapis sadaya.

Di sini jelas bahwa “sesuatu” yang dicari itu adalah: susuh angin (sarang angin), ati banyu (hati air), galih kangkung (galih kangkung), tapak kuntul nglayang (bekas burung terbang), gigir panglu (pinggir dari bumi), wates langit (batas cakrawala), merupakan sesuatu yang “tidak tergambarkan” atau “tidak dapat disepertikan” – dalam bahasa Jawa “tan kena kinaya ngapa” – pengertiannya sama dengan “Acintya” dalam ajaran Hindu.

Dengan pengertian “acintya” atau “sesuatu yang tak tergambarkan” itu, menyatakan bahwa hakikat Tuhan adalah sebuah “kekosongan”, atau “suwung”, Kekosongan adalah sesuatu yang ada tetapi tak tergambarkan. Semua yang dicari dalam Kidung Dandanggula di atas adalah “kekosongan”. Susuh angin itu “kosong”, ati banyu pun “kosong”, demikian pula “tapak kuntul nglayang” dan “batas cakrawala”.

Jadi hakikat Tuhan adalah “kekosongan abadi yang padat energi”, seperti areal hampa udara yang menyelimuti jagad raya, meliputi segalanya secara immanen sekaligus transcenden, tak terbayangkan, namun mempunyai energi luar biasa, hingga membuat semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan tidak saling bertabrakan. Sang “kosong” atau “suwung” itu meliputi segalanya, “suwung iku anglimputi sakalir kang ana”. Seperti udara tanpa batas dan keberadaannya menyelimuti semua yang ada, baik di luar maupun di dalamnya.

Terlihat jelas bahwa yang dicari adalah sesuatu yang tidak tergambarkan atau tidak dapat diserupakan (Tan Kena Kinaya Ngapa). Itulah mengapa ajaran Kejawen menyatakan bahwa hakikat Tuhan adalah sebuah kekosongan (suwung).

Oleh sebab itu, untuk menyatukan diri dengan Tuhan, seseorang harus mengosongkan diri dari hal-hal yang membebani jiwa seperti nafsu dan keinginan duniawi.

Tirakat Semedi  / Tapa Kejawen :

  • Tapa Mutih, yaitu minum air putih dan makan satu jenis makan dengan tanpa garam selama 40 hari. Sebagai contoh air putih dan nasi putih tanpa tambahan apa-apa selama 40 hari.
  • Tapa Ngrowot, yaitu makan sayuran saja, tidak makan nasi.
  • Tapa Pati Geni, yakni berpantangan makanan yang dimasak menggunakan api, tidak tidur dan dilakukan divtempat gelap/tidak ada cahaya.
  • Tapa Ngebleng, yaitu idak makan dan minum selama hari-hari ganjil, meliputi 7 / 13 / 19 / 21 hari.
  • Tapa Kungkum, yaitu merendam diri di pertemuan arus selama 40 hari.
  • Tapa Ngeli, menghanyutkan diri di air.
  • Tapa Pendem, yakni mengubur diri hingga nampak leher saja.
  • Tapa Nggantung, atau menggantung diri di pohon, tidak menginjak tanah.
  • Tapa Ngrame, artinya, diri tetap tenang walaupun di tengah hiruk-pikuk aktivitas manusia. Selain itu harus siap berkorban atau menolong siapa saja dan kapan saja
  • Tapa Brata, yakni bersemedi dengan khidmat.
  • Tapa Jejeg, tidak duduk selama 12 jam.
  • Tapa Lelono, melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).
  • Tapa Ngalong, bertindak seperti kalong (kelelawar besar) dengan posisi tubuh menggelantung, kepala di bawah dan kaki di atas. Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya tapa ini dibarengi dengan puasa ngrowot.
  • Tapa Ngeluwang, adalah tapa paling menakutkan dan membutuhkan keberanian sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan ghaib dan menghilangkan sesuatu. Topo Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat sangat sepi. Setelah selesai dari tapa ini biasanya setelah keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dsb). Sebelum masuk ke kubur, disarankan membaca mantra: “Niat ingsun Ngelowong, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu marang jiwa ingsun, lebur kaya dene banyu krana Gusti.

Dalam Kejawen, Semedi / Tapa diyakini sebagai jalan mencapai Manunggaling Kawula Gusti atau penyatuan hamba dengan Tuhannya.

Memahami Puasa Kejawen, perlu diingat beberapa hal:

Pertama, dalam menjalani lelaku spiritual puasa, tata caranya berdasarkan panduan guru spiritual.

Kedua, dikarenakan ritual ini bernuansa mistik, maka penjelasannya pun memakai sudut pandang tasawuf/mistis dengan mengutamakan rasa dan mengesampingkan akal/nalar.

Ketiga, dalam budaya mistis Jawa terdapat etika guruisme, dimana murid melakukan taklid buta (patuh, tunduk dengan tidak ada pertanyaan) pada Sang Guru.

Berbagai macam Puasa / Poso Kejawen:
 
1. Poso Mutih, yaitu tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya, dan membaca do’a: “Niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged, putih kaya bocah mentas lahir, kabeh krana Gusti.
2. Poso Ngeruh, yaitu hanya boleh makan sayuran / buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb (vegetarian).
3. Poso Ngebleng, adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Poso Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur pun harus dikurangi. Poso Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap-gulita tanpa ada cahaya sedikit pun. Dalam melakukan puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.
4. Poso Patigeni, hampir sama dengan Poso Ngebleng. Perbedaannya adalah, tidak boleh keluar kamar dengan alasan apa pun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang Poso Patigeni ingin buang air, maka harus dilakukan di dalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Mantranya : “Niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka krana Gusti”.
5. Poso Ngelowong, lebih mudah dibanding puasa-puasa di atas. Poso Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.
6. Poso Ngrowot, adalah puasa lengkap dilakukan dari jam 3 pagi sampai jam 18. Saat sahur seseorang Poso Ngrowot ini, hanya boleh makan buah-buahan saja. Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu, tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.
7. Poso Nganyep, puasa hanya boleh makan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Poso Mutih, perbedaannya, makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.
8. Poso Ngidang, hanya diperbolehkan memakan dedaunan dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.
9. Poso Ngepel, mengharuskan makan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.
10. Poso Ngasrep, hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja dalam sehari.
11. Poso Senin-Kemis, puasa setiap hari Senin dan Kamis saja seperti namanya. Dari jam 3 pagi sampai jam 18:00.
12. Poso Wungon, adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.
 

Puasa dijadikan sebuah metode untuk membangkitkan kekuatan spiritual agar pelakunya dapat menjadi pribadi yang berjiwa kuat dan berwawasan serta berpemikiran luas.

Rahayu…

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (192 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *