1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (187 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 05 September, 2010 - 7:00 PM

TASAWUF Wali Songo

Wali Songo adalah sembilan orang yang telah mampu mencapai tingkat wali, suatu derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga (mengawal sembilan lubang dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Ajaran tasawuf yang diajarkan meliputi Tasawuf Akhlaqi dan Tasawuf Falsafi. Cara pengajarannya melalui :

1. Berdakwah dengan Pendidikan, kelembagaan dan Ilmu Hikmah;

2. Menggunakan kebijaksanaan dan melakukan akulturasi ajaran Islam dengan kebudayaan setempat;

3. Mengakulturasi kesenian dengan ajaran tasawuf.

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Raden Rahmat atau Sunan Ampel (wafat sekitar tahun 1406 M) mengajarkan kehidupan zuhud, dengan melakukan riyadah secara ketat kepada masyarakat. Ada pun gambaran amalan ruhani yang dijalankan Sunan Ampel sebagai berikut:

Ora dhahar ora guling, anyegah ing hawa, ora sare ing wengine, ngibadah maring Pangeran, fardhu sunat tan katinggal, sarwa nyegah haram makruh, tawajuhe muji ing Allah.

Tidak makan tidak tidur, mencegah hawa nafsu, tidak tidur malam untuk beribadah kepada Tuhan, fardhu dan sunnah tidak ketinggalan, serta mencegah yang haram maupun yang makruh, tawajuh memuji Allah.

Ada satu keterangan di dalam Babad Tanah Jawi naskah Drajat, Sunan Ampel mengajarkan ilmu tasawuf dengan laku suluk menurut ajaran tarekat Naqsyabandiyah.

Sementara, Sunan Giri dalam melakukan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat lebih menekankan pada pendidikan. Ia merupakan salah satu wali yang mengembangkan sistem pesantren yang di kemudian hari diikuti oleh hampir oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Dalam menyampaikan dakwah Islam, Sunan Giri senantiasa menyampaikan dengan cara-cara lunak dengan mengikuti ajaran Islam yang diterima sebagai kewajaran. Titik tolak dakwah yang dikembangkan pada dasarnya adalah menanamkan pendidikan budi pekerti luhur kepada masyarakat.

Sunan Bonang dikenal sebagai guru tasawuf yang diyakini memiliki kekuatan keramat sebagaimana lazimnya seorang wali.

Sebuah naskah primbon asal Tuban, menurut Schrieke dalam Het Boek Van Bonang (1916) adalah tulisan Sunan Bonang sendiri, merupakan ikhtisar bebas dari Kitab Ihya ‘Ulum al-Din karya al-Ghazali, dan Kitab al-Tamhid Fi Bayan al-Tawhid karya Abu Syakur bin Syu‘aib al-Kasi al-Hanafi al-Salimi.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai guru ruhani, mengajarkan tarekat Syattariyah dari Sunan Bonang sekaligus tarekat Akmaliyah dari Syech Siti Jenar. Pelajaran tarekat dalam bentuk laku ruhani yang disebut mujahadah, muqarabah, dan musyahadah secara arif disampaikan Sunan Kalijaga, secara tertutup diberikan kepada murid-murid ruhani sebagaimana layaknya proses pembelajaran di dalam sebuah tarekat.

Sementara itu, pelajaran yang disampaikan secara terbuka, dilakukan melalui pembabaran esoteris kisah-kisah simbolik dalam pergelaran wayang, sehingga menjadi pesona tersendiri bagi masyarakat dalam menikmati pergelaran wayang yang digelar oleh Sunan Kalijaga.

Sunan Drajat dikenal sebagai penyebar Islam berjiwa sosial tinggi dan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin, serta lebih mengutamakan pencapaian kesejahteraan sosial masyarakat. Ajarannya lebih menekankan pada empati dan etos kerja keras berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong royong.

Secara umum, ajaran Sunan Drajat dalam menyebarkan dakwah Islam dikenal masyarakat sebagai Pepali Pitu (tujuh dasar ajaran), mencakup Tujuh Falsafah dijadikan pijakan dalam kehidupan sebagai berikut;

Pertama, amemangun karyenak tyasing sasama (tindakan dan ucapan selalu menyemangati dan membuat senang hati orang lain)

Kedua, jroning suka kudu eling lan waspodo (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada)

Ketiga, laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah (dalam upaya mencapai cita-cita luhur janggan menghiraukan halangan dan rintangan)

Keempat, meper hardaning pancadriya (senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu inderawi)

Kelima, heneng-hening-henung (dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam hening akan mencapai jalan kebebasan mulia)

Keenam, mulya guna panca waktu (pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalankan salat lima waktu)

Ketujuh, menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar.berikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian. Berikan tempat teduh kepada orang yang kehujanan)

Beberapa contoh dari dakwah Wali Songo di atas terutama yang berkaitan dengan tasawuf (laku suluk) dapat memberikan deskripsi bahwa sesungguhnya dakwah yang dikembangkan Wali Songo pada hakikatnya adalah dakwah yang selaras dengan firman Allah:

Hendaklah engkau mengajak orang ke jalan Allah dengan hikmah, dengan peringatan yang ramah tamah serta bertukar pikiran dengan mereka melalui cara yang sebaik-baiknya.

Penanaman nilai-nilai ajaran Islam melalui keteladanan yang baik (uswah hasanah) sebelum berucap kata, bukan dengan cara propaganda dan cara yang tidak bijak lainnya, menjadikan dakwah yang diajarkan Wali Songo mendapatkan simpati di hati masyarakat.

Ajaran-ajaran semacam ini selalu digaungkan di dalam ajaran Islam dan bahkan dianjurkan karena sesuai dengan dalil normatif al-Qur’an dan Sunnah.

Jika demikian model dakwah yang dikembangkan oleh Wali Songo, maka ditemukan kecocokan model dakwah atau ajaran tasawuf Wali Songo dengan tipologi tasawuf Akhlaqi yang diserukan oleh al-Ghazali.

Nampaknya tawaran ajaran tasawuf al-Ghazali lebih mendapat simpati Wali Songo untuk diajarkan kepada masyarakat secara luas. Ini bisa terlihat jelas dari ajaran tasawuf Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, yang menjadikan buku-buku karya al-Ghazali sebagai rujukan utama.

Selain ajaran Wali Songo di atas terdapat pula ajaran Syech Siti Jenar, pemikiran-pemikirannya masuk dalam tipologi tasawuf Falsafi.

Syech Siti Jenar pernah mengungkapkan pemikirannya, memiliki kesamaan dengan ajaran Ibn ‘Arabi yang monistik sebagai berikut:

…Seh Lemah Abang ngandika, aja na kakeyan semu, iya ingsun iki Allah, nyata ingsun kang sajati, jejuluk Prabu Satmata, tan ana liyan jatine/ ingkang aran bangsa Allah, molana Maghrib mujar, iku jisim aranipun, Seh Lemah Bang angandika, kawula amedhar ngelmi, angraosai katunggalan, dede jisim sadangune, mapan jisim nora nana, dene kang kawicara, mapan sajati ning ngelmu, sami amiyak warana.

Syech Lemah Abang berujar, ‘Marilah kita berbicara dengan terus terang bahwa Aku ini Allah. Akulah yang sejatinya disebut Prabu Satmata (salah satu nama Syiwa), tidak ada lain yang disebut ilahi’, Maulana Maghrib mencela, ‘tapi itu jisim namanya,’ Syech Lemah Abang menyahut, ‘Saya menyampaikan ilmu yang bukan tubuh, karena tubuh pada hakikatnya tidak ada. Yang kita bincang adalah ilmu sejati. Kepada semuanya saja, kita buka tabir rahasia ilmu sejati’.

Dengan demikian, benih-benih tasawuf falsafi di Indonesia sejak awal memiliki kekuatan sama besar dengan tasawuf akhlaqi.

Terlebih peranan ajaran Syech Siti Jenar, sebagai wali dengan kapasitas keilmuan sangat mumpuni, banyak mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini menunjukkan kedua model tasawuf pernah ada dan tumbuh bahkan pada taraf menjadi suatu mainstream di Nusantara.

Hal tersebut di atas bisa saja menjadi benar, jika dakwah dan ajaran Syech Siti Jenar tidak mendapatkan resistensi dari para anggota wali lainnya.

Pada kenyataannnya di dalam sejarah dibuktikan bahwa adanya usaha-usaha pemakzulan terhadap paham yang cenderung pada ajaran filosofis-panteistis yang diajarkan Syech Siti Jenar. Bahkan diceritakan bahwa Sunan Giri (anggota Wali Songo) dikabarkan menentang ajaran Siti Jenar yang berpandangan panteisme.

Sebuah debat langsung digelar di hadapan Raden Fatah, sultan pertama kerajaan Islam di Jawa, berakhir dengan pengadilan yang menjatuhkan hukuman mati pancung kepada Syech Siti Jenar. Menurut kisahnya, Syech Siti Jenar melakukan “muksa” (menghilang jiwa raganya) menjelang pelaksanaan hukuman mati pancung tersebut.

Syech Siti Jenar dianggap salah karena telah mempercayai bahwa Tuhan tidak berwujud kecuali dalam bentuk nama, Dia mengalir dalam diri insan kamil (manusia paripurna), yang terkenal dengan ajaran ‘Manunggaling Kawula lan Gusti’.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut, makna yang dapat diambil adalah Wali Songo tidak pernah membuka ruang terhadap pemikiran filosofis Ibn ‘Arabi, al-Hallaj, dan sebagainya, yang memiliki tendensi ke arah panteisme.

Sebaliknya Wali Songo lebih simpati terhadap karya-karya al-Ghazali dan al-Qusyairi yang memiliki orientasi pada pembentukan karakter dan budi pekerti yang baik dalam hal mu’amalah.

Implikasi dari adanya usaha membendung arus pemikiran panteistis di Indonesia, mengindikasikan adanya dominasi pemikiran tasawuf akhlaqi sebagai pemikiran tasawuf yang diridhoi dan direstui, yang dijadikan sebagai basis utama pemikiran tasawuf di Indonesia.

Wallahu a’lam bish shawab.

Rahayu…
Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (187 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *