1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (189 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 15 September, 2010 - 7:00 PM

Iblis Lebih Takut Orang Berilmu, dari pada Ahli Ibadah

Salah satu makhluk yang ditangguhkan kematiannya hingga kiamat kelak yakni Iblis. Iblis merupakan musuh manusia karena tujuan hidupnya untuk menjerumuskan manusia dalam kesesatan dan dosa. Allah SWT telah menjamin bahwa iblis akan masuk ke dalam neraka lantaran tidak mau taat kepada Allah SWT.

Dalam kitab Mashaibul Insan diceritakan, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani berkata, “Dalam suatu perjalanan, aku merasakan cuaca yang sangat panas, hampir saja aku mati kehausan. Lalu datanglah awan menaungiku, dan angin terasa datang bergerak menghembus tubuhku, dan ludah pun terasa mengalir di mulutku.” Tiba-tiba muncul cahaya terang di ufuk, kemudian dia mendengar suara memanggilnya, “Wahai Abdul Qadir, Aku adalah Tuhanmu. Sungguh, telah aku halalkan untukmu semua hal-hal yang haram.” Lantas Abdul Qadir berkata, “Enyahlah kau, wahai makhuk terkutuk!” Seketika itu, cahaya tersebut berubah menjadi gelap. Tiba-tiba muncul suara mengatakan, “Wahai Abdul Qadir! Sungguh, engkau telah selamat dariku lantaran pengetahuanmu tentang Tuhanmu, dan ilmu fikihmu. Sesungguhnya aku telah menyesatkan tujuh puluh orang dari kalangan ahli ibadah dengan cara seperti ini. Seandainya tidak karena ilmu, pastilah aku dapat menyesatkanmu seperti mereka.”

Ada yang bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir, “Bagaimana Syeikh mengetahui bahwa itu adalah iblis?” Abdul Qadir menjawab, “Barang siapa berkata, ‘telah aku halalkan bagimu ini dan itu’, maka engkau dapat memastikan bahwa ia adalah iblis. Karena sepeninggal Rasulullah, tidak ada lagi yang berhak menghalalkan apa yang telah diharamkan.”

Diriwayatkan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam pada suatu hari berdiam di atas gunung. Lantas Iblis mendatanginya dan berkata kepadanya, “Bukankah engkau mengatakan bahwa manusia yang telah dikehendaki mati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pastilah dia mati?” Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab, “Iya.” Iblis bertanya lagi, “Kalau tidak?” Nabi Isa pun menjawab, “Tidak akan mati.”

Iblis pun berkata kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, “Kalau demikian, lemparkanlah dirimu dari atas gunung. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki engkau mati, engkau pasti akan mati. Dan jika Dia tidak menghendaki, maka engkau tidak akan mati.” Lantas Nabi Isa membentak  iblis, “Enyahlah kau, wahai makhluk terkutuk! Sesungguhnya Allah-lah yang menguji hamba-Nya. Sedangkan hamba-Nya tidak berhak menguji-Nya.”

Sebuah riwayat ada menceritakan sebuah pohon yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu seorang laki-laki mendatangi pohon tersebut seraya berkata, “Sungguh, saya akan menebang pohon ini.” Dia datang untuk menebang pohon ini dengan penuh amarah murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lantas Iblis menemuinya dalam bentuk manusia, lalu dia berkata, “Apa yang engkau inginkan?” Lelaki tersebut menjawab, “Saya ingin menebang pohon yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Iblis berkata, “Jika engkau tidak menyembah pohon ini, maka apakah orang yang menyembahnya mengganggumu?” Dia menjawab, “Sungguh, saya akan menebangnya.” Lalu iblis berkata kepadanya, “Apakah kamu mau sesuatu yang lebih baik buatmu, yaitu kamu tidak menebangnya, dan setiap hari kamu mendapati dua dinar di bantalmu pada pagi hari.” Dia bertanya, “Dari siapa dua dinar tersebut?” Iblis menjawab, “Dariku untukmu.”

Lelaki itu akhirnya pulang. Dia pun menemukan dua dinar di bantalnya. Setelah itu, keesokan harinya dia tidak menemukan apa-apa di bantalnya, lalu dia bangkit dengan penuh emosi hendak menebang pohon. Dia bertemu lagi dengan iblis, dalam bentuk manusia, lalu iblis berkata, “Apa yang engkau inginkan?” Lelaki itu menjawab, “Saya ingin menebang pohon yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Iblis berkata, “Kamu bohong. Kamu tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.” Lelaki itu masih tetap pergi untuk menebang pohon, lalu iblis membantingnya ke tanah dan mencekiknya sampai hampir mati. Dan iblis berkata, “Ketika engkau dengan penuh emosi mau menebang pohon, murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka aku tidak mempunyai kemampuan untuk mengalahkanmu. Karena itu, kutipu kamu dengan dua dinar, lalu aku tidak memberikan lagi. Dan ketika engkau datang dengan penuh emosi karena dua dinar, maka aku dapat menguasai kamu.”

Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pada suatu hari sedang berada di majelis pengajiannya. Dengan izin Allah, tiba-tiba Imam Syafi’i melihat iblis ikut duduk di antara murid-murid Imam Syafi’i, dalam rupa seorang laki-laki seperti mereka, kemudian dia mengajukan pertanyaan, “Bagaimana pendapatmu mengenai Dzat yang menciptakanku sesuai kehendak-Nya dan Dia menjadikanku sebagai hamba sesuai kehendak-Nya. Setelah itu, jika Dia berkehendak, Dia memasukanku ke dalam surga. Jika Dia berkehendak, Dia memasukanku ke dalam neraka. Apakah Dia berbuat adil atau berbuat dzalim dalam hal tersebut?” Imam Syafi’i dapat mengenali iblis, lantas beliau menjawabnya, “Hai kamu! Jika Dia menciptakanmu sesuai apa yang engkau kehendaki, maka Dia berbuat dzalim kepadamu. Jika Dia menciptakanmu sesuai apa yang Dia kehendaki, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya.”

Dalam sebuah Hadist dikisahkan, Nabi Muhammad SAW mendatangi masjid, dan beliau melihat iblis berada di sisi pintu masjid. Kemudian Nabi SAW bertanya, “Wahai Iblis apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Iblis itu menjawab, “Saya hendak masuk masjid dan akan merusak shalat orang yang sedang shalat ini, tetapi saya takut pada seorang lelaki yang sedang tidur ini.”

Lalu Nabi SAW berkata, “Wahai Iblis, kenapa kamu tidak takut pada orang yang sedang shalat, padahal dia dalam keadaan ibadah dan bermunajat pada Tuhannya, dan justru takut pada orang yang sedang tidur, padahal ia dalam posisi tidak sadar?” Iblis pun menjawab, “Orang yang sedang shalat ini bodoh, mengganggu shalatnya itu sangatlah mudah. Tetapi orang yang sedang tidur ini adalah orang alim (berilmu/pandai).”

Iblis lebih takut kepada orang berilmu dari pada ahli ibadah, sebagaimana sabda Nabi SAW kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali, Tidurnya orang yang berilmu lebih baik daripada ibadahnya seorang ahli ibadah.” Ini artinya kedudukan ilmu itu lebih penting dibandingkan semangat (nafsu) dalam beribadah. Orang berilmu lebih tahu cara beribadah yang baik dan benar atau yang sesuai tuntunan al Qur’an dan Hadist. Lebih jauh dari itu, konteks ilmu itu tidak hanya untuk kegiatan peribadatan, namun juga dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam pergaulan, kegiatan perniagaan, dan lain-lain.

Iblis berkata kepada Allah, “Dengan keagungan dan kebesaran-Mu, aku tidak akan berhenti menyesatkan bani Adam selama mereka masih bernyawa.” Lalu Allah berfirman, “Dengan keagungan dan kebesaran-Ku, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka meminta ampun (beristighfar dan bertaubat).” (HR Ahmad).

SYETAN LEBIH SULIT MENGGELINCIRKAN AHLI ILMU DARI PADA AHLI IBADAH

Rasulullah SAW pernah menyatakan, “Keutamaan orang berilmu dibanding orang ahli ibadah, laksana keutamaan bulan dibanding seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham (harta), tapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa bisa memiliki ilmu tersebut, berarti ia telah memiliki keuntungan yang sangat banyak.” (HR Ahmad Abu Daud dan Ibnu Majah). Sedangkan dalam riwayat lain, “Keutamaan orang yang berilmu dibanding orang yang ahli ibadah, seperti keutamaanku atas orang yang paling awam di antara kalian.” (HR Tirmidzi).

Dengan ilmu agama yang dimiliki, manusia bisa mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil. Dengan pemahaman akidah yang dalam, manusia bisa mengetahui jebakan-jebakan syetan yang bisa merusak akidah itu sendiri. Dengan ilmu syari’at yang memadai , manusia bisa beribadah kepada Allah SWT dengan cara yang benar. Dengan ibadah yang benar serta ikhlas, manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan dirinya dari tipudaya syetan.

Abu Hurairah dalam hadits marfu’nya menginformasikan “Sungguh, seorang faqih (orang yang mumpuni ilmu agamanya) lebih sulit bagi syetan untuk memperdayainya, daripada seribu ahli ibadah.” (Adabul Imal’ wal Istimla’: I/60).

Seorang ulama hadits, bernama Muhammad Abdulrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri mengatakan “Karena orang yang alim dengan ilmunya, ia tidak mudah terkecoh, bahkan akan menolak tipudaya syetan. Ia senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan. Dan hal itu tidak dijumpai pada diri orang yang ahli ibadah.”

“Banyak tipudaya syetan yang berhasil dimentahkan atau ditolak oleh orang alim. Setiap syetan akan menjebak dan menggelincirkan manusia, orang alim datang dan menjelaskan akan tipudaya tersebut. Akhirnya manusia-manusia itu terhindar dari perangkap dan tipudaya syetan. Sedangkan orang ahli ibadah biasanya sibuk dengan ibadahnya sendiri. Karena tidak dilandasi ilmu, akhirnya ia tidak merasa bahwa ibadahnya itu salah dan ia telah terjebak dalam tipudaya syetan.” (Tuhfatul Ahwadzi: 7/ 374).

Ibnu Abbas berkata, sesungguhnya syetan pernah berkata kepada Iblis; “Wahai tuan kami, kami merasa gembira atas kematian orang yang alim (berilmu), namun kami sangat sedih dengan kematian seorang yang banyak ibadahnya. Karena orang alim itu tidak memberi kesempatan kepada kami, dan dari orang yang banyak ibadahnya kami mendapatkan banyak kesempatan dan bagian yang banyak darinya.”

Iblis berkata, “Pergilah kalian! Lalu mereka pun pergi kepada orang yang banyak ibadahnya. Tatkala mereka datang, ahli ibadah itu sedang beribadah. Syetan-syetan itu berkata kepadanya, ’Apakah Tuhanmu berkuasa untuk menciptakan dunia ini dalam sebutir telur’. Si ahli ibadah menjawab, ’Saya tidak tahu’. Iblis berkata kepada syetan, ‘Tidakkah kamu melihat bahwa itu adalah jawaban yang kufur’?”

Kemudian syetan-syetan itu mendatangi seorang alim (ahli ilmu) dalam majlis ta’limnya. Syetan-syetan itu berkata, ‘kami ingin bertanya kepadamu’. Syetan berkata, ‘Apakah Tuhanmu mampu menjadikan dunia ini dalam sebutir telur?’ Si alim menjawab, ‘Ya’ Syetan menyangkal, ‘Bagaimana bisa?’ Si alim menjawab, ‘Dia hanya mengatakan, ‘Jadi-lah’, maka akan terjadi’. Lalu Iblis berkata kepada syetan-syetan, ’Tidakkah kamu melihat, bagaimana ia mampu menahan hawa nafsunya, dan ia mampu menangkal tipudayaku dengan ilmu agamanya’.”

Seharusnya setiap ibadah yang kita lakukan didasari dengan ilmu. Agar ada keyakinan di dalamnya, ketenangan saat melaksanakannya, dan tidak mudah menjadi bulan-bulanan syetan. Syetan akan dengan mudah mempermainkan orang yang beribadah tanpa didasari dengan ilmu. Bahkan dengan tipudayanya itu, syetan akan mampu menggelicirkannya, sedangkan orang ahli ibadah itu tidak menyadarinya, mengira bahwa ibadahnya itu akan menghasikan pahala. Padahal apa yang dilakukannya sudah menyimpang dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang tidak akan mendapatkan keutamaan, yang melebihi keutamaan ilmu, yang dapat memberikan petunjuk kepada pemiliknya atau mengangkatnya dari kehinaan. Dan tidaklah seseorang akan lurus agamanya hingga lurus ilmunya.” (HR. Thabrani).

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (189 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *