1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (136 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 28 December, 2015 - 9:00 PM

Inilah Sebab Kita Jatuh Ke SABOTASE DIRI

Ketika kita penuh dengan kegembiraan dan gairah hidup, sepertinya keberuntungan kita tidak akan pernah berakhir. Kemudian ada suatu masalah menimpa kita, sebagian besar dari kita, sering otomatis mendapatkan satu pemikiran kecil di kepala, “Semuanya tidak berjalan terlalu baik.” atau “Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.”

Itu adalah awal penanaman benih yang akhirnya berkembang menjadi Sabotase Diri. Tapi apakah sabotase diri itu? Bagaimana pengaruhnya terhadap kita? Dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi perilaku sabotase diri?

Apa itu sabotase diri?

Seperti makna dari frasa itu sendiri, sabotase diri didefinisikan sebagai ‘sabotase diri sendiri.’ Artinya, kita membiarkan perilaku kita secara aktif atau pasif menggagalkan tujuan jangka panjang kita, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Perilaku tersebut termasuk di antaranya adalah; penundaan, kenyamanan makan, pesta pora, ketidakpedulian, bahkan menonton televisi. Itu juga sering mencakup perilaku yang jauh lebih merusak seperti mengobati diri sendiri dengan obat-obatan dan alkohol, atau bentuk menyakiti diri sendiri, secara mental yang berakibat ke fisik juga.

Beberapa di antaranya adalah kasus ekstrim dan tidak diharapkan dalam banyak keadaan. Contoh sikap berkaitan dengan penundaan, secara sengaja atau pun sudah menjadi otomatis, mengatakan pada diri sendiri, “Saya akan melakukannya besok.” atau “Setelah saya kembali ke lokasi nanti, saya akan menyelesaikannya.” Dan, kemudian secara tidak sadar akan mencari setiap alasan untuk tidak menyelesaikan apa pun yang sedang dikerjakannya.

Apa makna psikologis di balik perilakunya? Mengapa kita jatuh ke dalam perilaku dan pola yang menghalangi kita mencapai tujuan dan menjalani kehidupan terbaik kita? Dan yang terpenting, bagaimana kita mengenali dan menghindari perilaku tidak membantu kemajuan tersebut?

Mengapa kita melakukannya?

Salah satu alasan utama di balik sabotase diri adalah kurangnya harga diri. Meskipun hal ini mungkin berasal dari berbagai penyebab yang berbeda, hasil akhirnya masih sama: perasaan ragu-ragu, tidak berharga, keyakinan tentang merasa tidak pantas, dan ketakutan akan ketidakmampuan.

Ketika emosi dan keyakinan negatif ini mulai mengakar, kita cenderung meningkatkan self-talk negatif kita, yang hanya menyulut emosi dan keyakinan itu, dan memperkuatnya lebih dalam ke alam bawah sadar kita. Karena pikiran bawah sadar kita selalu aktif bekerja, maka ketika kita menanamkan “perintah” ini ke dalam pikiran, kita mulai secara tidak sadar menemukan cara yang lebih cepat dan lebih mudah untuk mewujudkannya. Mewujudkan hal-hal negatif yang menyabotase diri.

Seperti apa sabotase diri dalam kehidupan kita sehari-hari?

Sabotase diri memanifestasikan dirinya dalam pola perilaku yang tidak kentara dan sering mengganggu, yang tidak kita kenali atau tidak terlihat. Perilaku misalnya, membuat keputusan negatif yang impulsif, ketidakmampuan untuk membuat keputusan, dan mengkritik diri sendiri secara tidak adil, adalah tanda sabotase diri. Di sisi lain, sabotase diri juga dapat berupa sikap perfeksionisme.

Pernahkah Anda tidak melakukan sesuatu atau menunda sesuatu karena Anda pikir itu kurang sempurna, atau perlu tambahan sedikit lebih “ini atau itu?” Pernahkah Anda menunda sesuatu karena “Anda merasa terlalu lelah, atau Anda mengalami hari yang melelahkan?”

Semua hal tersebut adalah perilaku dan pola sabotase diri, yang kebanyakan kita lakukan setiap hari. Bagian terburuknya adalah begitu kita jatuh ke dalam perilaku ini, itu akan cenderung menjadi pola, dan berubah menjadi kebiasaan yang menghancurkan.

Bagaimana kita mengenali perilaku ini dan mencegahnya menjadi kebiasaan?

Langkah awal adalah melihat mendalam pada diri sendiri secara introspektif. Untuk mencegah perilaku ini, kita harus mengetahui sumber tindakan kita, kemudian secara aktif menantang dan menghadapinya. Ini membutuhkan waktu dan refleksi diri, dan itu pun akan sering membuat kita kembali ke mode defensif untuk membenarkan sifat sabotase diri kita. Namun, ini tetap perlu dipahami, mengapa kita berperilaku seperti ini, dan di mana keyakinan itu berakar.

Salah satu cara dapat mulai mencegah sabotase diri kita adalah dengan menjadi sadar diri. Kita dapat meninjau kembali beberapa pengalaman masa lalu kita, di mana kita telah berhasil dan berkembang; dan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri seperti, “Tantangan apa yang harus saya atasi?” dan “Langkah apa yang terlibat dalam proses itu?” Dalam mengenali dan mengakui pengalaman masa lalu ini, kita dapat memperlengkapi kembali proses yang sama, untuk mengatasi keyakinan tertentu yang membatasi, yang mengarah pada sabotase diri kita.

Metode lain yang bisa kita gunakan adalah dengan mengubah self-talk yang kita izinkan ke dalam bahasa kita. Dalam Neuro Linguistic Programming, kita belajar bahwa pikiran bawah sadar kita – seperti listrik – mengikuti jalur yang punya ketahanan terkecil untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ketika menggunakan kata-kata seperti “tidak bisa” dan “akan mencoba” atau frasa seperti “itu terlalu sulit“, maka kita secara subliminal memprogram diri sendiri mencari cara tercepat dan termudah untuk tidak berhasil.

Jika kita dapat menghilangkan kata-kata seperti “tidak” dan “harapan / permohonan” dari kosakata kita, maka kita dapat fokus pada pemrograman pikiran untuk menemukan cara tercepat dan termudah untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Sebagai contoh, kita dapat mengubah pernyataan “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan” menjadi “Saya belum tahu apa yang harus dilakukan, dan saya akan mencari tahu.”

Pikiran bawah sadar kita adalah hal yang unik. Dengan memperluas pernyataan itu dengan kata ‘belum‘ dan kemudian menambahkan ‘dan’ diikuti dengan pernyataan yang memberdayakan, maka pada dasarnya menghapus pernyataan sebelumnya dari penyimpanan di alam bawah sadar, dan sebagai gantinya, menanamkan pernyataan pemberdayaan.

Alat lain yang bisa kita gunakan untuk mengalahkan sabotase diri adalah mulai bersandar pada ketidaknyamanan. Sebagian besar sabotase diri, terungkap dalam bentuk tetap berada di zona nyaman kita. Kita tidak ingin melepaskan diri dari keamanan itu. Karena ini membuat kita merasa aman dan nyaman.

Ketika kita bisa bersandar pada ketidaknyamanan, kita bisa mulai mengidentifikasi tantangan yang menyertainya. Hanya dengan mengidentifikasi tantangan-tantangan itu, kita dapat mulai membuat rencana untuk mengatasi ketakutan.

Meskipun kita tidak dapat melihat semua langkah dalam prosesnya, dengan mengambil langkah pertama kita sudah mulai membangun kepercayaan diri dan harga diri kita, kemudian dapat mulai menggabungkannya menjadi pertumbuhan dan perkembangan yang berkelanjutan.

Nah Sahabat. Bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri Anda, agar sukses dalam kehidupan?

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (136 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *