1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (191 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 07 May, 2016 - 6:00 AM

Haruskah Pengusaha Percayai Nalurinya?

Sebuah penelitian dalam pengambilan keputusan, menunjukkan bahwa banyak pengusaha tidak tahu kapan harus mengandalkan naluri mereka dan kapan harus mengikuti alasan logika analitik.

Katakanlah Anda sedang mewawancarai pelamar baru di perusahaan Anda, dan wawancara terasa agak tidak menyenangkan. Anda tidak nyaman berbicara dengan orang ini. Dia mengatakan semua hal yang benar, resumenya bagus, dia tampak seperti pegawai yang sempurna — namun naluri Anda mengatakan sebaliknya.

Haruskah Anda mengikuti naluri Anda?

Ketika pelamar semacam itu datang ke wawancara kerja, penelitian menunjukkan bahwa mereka sebenarnya indikator yang buruk untuk kinerja pekerjaan di masa depan. Jadi, jawaban yang benar dalam kasus ini adalah mewaspadai naluri itu, dan ikuti faktanya.

Saya sering mengatakan untuk “mempercayai naluri” dan banyak pengusaha terlalu mempercayai naluri mereka, memberikan pekerjaan kepada orang yang mereka sukai — orang yang mereka anggap sebagai bagian dari kelompok mereka — daripada kepada pelamar yang paling memenuhi syarat.

Reaksi naluri kita berakar pada bagian otak kita yang lebih primitif, emosional dan intuitif, yang memastikan kelangsungan hidup di lingkungan kita. Loyalitas kesukuan dan pengakuan langsung terhadap teman atau musuh sangat berguna untuk berkembang di lingkungan itu.

Namun, dalam masyarakat modern, kelangsungan hidup kita jauh lebih kecil risikonya. Naluri kita lebih cenderung memaksa kita untuk fokus pada informasi yang salah saat mengambil keputusan di tempat kerja.

Misalnya, kembali ke kandidat pekerja sebelumnya, apakah dia mirip dengan Anda dalam hal ras, jenis kelamin, dan latar belakang sosial ekonomi? Bahkan hal-hal sepele seperti pilihan pakaian, gaya bicara dan gerak tubuh dapat membuat perbedaan besar dalam menentukan bagaimana Anda mengevaluasi orang lain. Otak kita cenderung jatuh untuk kesalahan kognitif yang dikenal sebagai ‘efek halo‘, menyebabkan beberapa karakteristik yang kita sukai dan mengidentifikasi dengan melemparkan “halo” positif pada orang lain. Kebalikannya dikenal sebagai ‘efek tanduk‘, di mana satu atau dua sifat negatif mengubah cara kita memandang keseluruhan.

Namun, hanya karena seseorang serupa dengan Anda, tidak berarti ia akan menjadi karyawan terbaik. Penelitian ini jelas, bahwa seringkali naluri kita tidak melayani kita dengan baik dalam membuat keputusan perekrutan terbaik. Ketergantungan pada naluri semacam itu sangat berbahaya jika Anda mencoba membangun keragaman di tempat kerja. Ini juga membuka jalan untuk bias dalam perekrutan, termasuk dalam hal ras, kecacatan, dan jenis kelamin.

Meskipun banyak penelitian menunjukkan bahwa intervensi terstruktur diperlukan untuk mengatasi bias dalam perekrutan, banyak pemimpin bisnis dan personel SDM masih mengandalkan wawancara tidak terstruktur dan praktik pengambilan keputusan intuitif lainnya. Karena terlalu percaya diri dengan nalurinya, kecenderungan untuk pengambilan keputusan para pemimpin dalam merekrut serta keputusan bisnis lainnya lebih bersifat intuitif, daripada menggunakan alat pengambilan keputusan analitis yang memiliki hasil jauh lebih baik.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah bias selama proses perekrutan adalah dengan membuat daftar di mana pelamar berbeda dari Anda. Kemudian, beri masing-masing faktor “poin positif”. Pilihan lain adalah menstandarkan wawancara — buat daftar pertanyaan dan tanyakan dalam urutan yang sama kepada setiap pelamar.

Mari kita ambil situasi yang berbeda. Katakanlah Anda sudah dikenal sebagai pengusaha selama bertahun-tahun. Anda telah berkolaborasi dengan sesama pengusaha di berbagai proyek dan memiliki hubungan bisnis yang mapan.

Bayangkan diri Anda berbicara dengan pengusaha lainnya tentang potensi kolaborasi. Entah mengapa, Anda merasa kurang nyaman dari biasanya. Kemungkinan besar, naluri Anda memberikan isyarat intuitif secara halus.

Apakah Anda percaya pada naluri Anda atau mengandalkan pengalaman sebelumnya?

Situasi ini adalah contoh yang masuk akal untuk mempercayai reaksi naluri Anda. Tanda-tanda tidak nyaman atau cemas adalah indikator untuk suatu kebohongan, dan layak untuk berhati-hati. Maka, dalam hubungan bisnis yang sudah mapan, naluri Anda adalah bagian penting dari pengambilan keputusan.

Namun secara umum, ketika Anda menghadapi keputusan penting tentang bisnis Anda, percayalah lebih kepada logika analitik Anda untuk membuat keputusan terbaik, dan membatasi pengaruh naluri Anda.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

Twitter: @Wuryanano

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (191 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *