1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (198 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 20 August, 2018 - 6:00 AM

3 Alasan Terbesar yang Menjebak Pemilik Bisnis

Setelah dua dekade melatih pemilik bisnis untuk berhasil, saya mengamati pola yang jelas tentang apa yang menyebabkan pemilik bisnis tetap terjebak dalam bisnis, yang bergantung pada pemilik, dan tidak pernah berhasil dalam meningkatkan bisnis mereka.

Ini perbedaan antara wirausaha yang dapat secara konsisten mengembangkan bisnis mereka sebesar 50 persen atau lebih per tahun, tahun demi tahun, sementara pemilik bisnis lainnya berjuang hanya untuk sekedar mempertahankan bisnisnya, bekerja berjam-jam tanpa rasa kebebasan.

Pola wirausaha yang terjebak dalam “perangkap wirausaha” ini bermuara pada satu dari tiga alasan yang mereka buat. Inilah ketiga alasan tersebut, dan coba lihat apakah terjadi pada Anda dan perusahaan Anda.

Alasan 1: “Saya harus menjalankan dan mengembangkan bisnis saya, tak bisa saya lepas. Sekarang saya masih sangat sibuk, tak bisa mundur. Mungkin nanti ketika saya punya lebih banyak waktu …”

Pikirkan ini sejenak. Berapa banyak pemilik bisnis yang Anda kenal, begitu sibuk melakukan “pekerjaan” bisnis mereka, sehingga mereka tidak meluangkan waktu untuk mundur melepaskannya, berpikir dan membangun bisnis mereka sebagai bisnis? Terlalu sibuk mendapatkan bantuan dari luar untuk membuatnya lebih baik? Terlalu sibuk mencoba solusi baru untuk masalah kronis dalam bisnis?

Itu masuk akal, sama seperti orang yang menggali lubang dan mengatakan, “Jika saya terus menggali lubang, saya akhirnya bisa menggali jalan keluar.” Mereka tidak pernah menyadari bahwa semakin banyak mereka langsung menggali, akan semakin dalam mereka terlibat langsung, semakin bergantung pada perusahaan mereka, dan akhirnya mereka ada di sana setiap hari.

Kebanyakan pemilik bisnis yang ingin mengembangkan perusahaan mereka melakukannya dengan bekerja lebih keras, dan secara pribadi menghasilkan lebih banyak. Tetapi semakin pemilik bisnis melakukan “pekerjaan” untuk bisnisnya, semakin harus terus melakukannya karena bisnis semakin bergantung pada Anda berada di sana untuk “menghasilkan” bisnis.

Oleh karena itu, Anda harus menemukan cara untuk melakukan “pekerjaan” lebih sedikit, dan membuat bisnis Anda melakukan lebih banyak. Ironi terbesar adalah begitu Anda berada di jalur ini, bisnis Anda akan lebih sukses, lebih bernilai, dan lebih aman.

“Tapi Coach, ini kedengarannya tidak mungkin …” Begitu umumnya mereka menanggapinya.

Beberapa wirausaha yang pernah saya dampingi, mereka sudah memiliki omzet bisnis yang cukup besar. Tetapi mereka rata-rata bekerja 80 jam seminggu dan mengorbankan segalanya untuk melakukan “pekerjaan” bisnisnya. Dan, pihak keluarganya menginginkan mereka untuk bisa meluangkan waktu bersama keluarganya.

Akhirnya, setelah mereka mau melepaskan alasan “sibuk” ini dan berkomitmen untuk menumbuhkan perusahaannya, kemudian merekrut pegawai berbakat sesuai kebutuhan, mereka bisa menumbuhkan perusahaannya. Tetapi yang lebih penting daripada uang itu, adalah mereka memiliki hidupnya kembali dan bisa lebih banyak waktu bersama keluarganya kembali.

Dan masih banyak pemilik bisnis hanya akan bersembunyi di balik alasan bahwa mereka tidak punya waktu. Mereka akan menunggu sampai suatu hari mereka secara ajaib akan melakukan hal-hal yang akan membuat bisnis mereka kurang bergantung pada mereka. Sayangnya suatu hari nanti, yang mereka tunggu itu tidak pernah datang.

Alih-alih, Anda harus segera membuat keputusan bahwa suatu hari nanti bagi Anda adalah sekarang! Dan titik awal Anda adalah hari ini!

Ketika Anda melakukan ini, dan mendukungnya dengan tindakan, fokus untuk secara bertahap mengubah cara Anda membangun bisnis Anda, hasilnya akan membuat Anda kagum.

Alasan 2: “Saya tidak punya uang. Saya tidak mampu mempekerjakan lebih banyak staf untuk mengambil beban kerja saya. Saya tidak mampu merekrut tenaga ahli untuk memandu saya. Saya harus terus melakukannya sendiri.”

Sebagian besar pemilik bisnis hanya memikirkan hal “biaya” mereka untuk berinvestasi dalam staf, atau sistem, atau pendidikan, atau bantuan luar yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan mengembangkan perusahaan mereka. Bagi mereka, keputusannya tidak tepat, karena mereka hanya melihat biaya melakukan sesuatu yang lebih baik dan berbeda.

Yang mereka abaikan adalah biaya sebenarnya dari status quo!

Ini contoh sederhana. Salah satu klien pelatihan bisnis kami, menjalankan perusahaan manufaktur milik keluarga generasi ketiga yang menghasilkan omzet 100 Milyar per tahun dalam penjualan. Selama lebih dari setahun ia melihat bahwa penjualannya akan terus stagnan, bahkan menurun karena ia berpikir bahwa biaya mendapatkan bantuan ahli untuk melakukan sesuatu tentang hal itu “terlalu mahal” sehingga akhirnya ia “terlalu sibuk”.

Akhirnya suatu hari, dia membuat keputusan bahwa status quo tidak dapat diterima lagi. Saat itulah kami bertemu dengannya dan mulai bekerja bersama dengannya.

Dia membuat satu perubahan kecil dalam 90 hari pertama bekerja bersama, yang menghasilkan omzet lebih banyak daripada sebelumnya dari penjualan langsungnya, dan meraih kembali dua pelanggan lamanya dengan nol biaya pemasaran.

Gagasan sederhana ini, yang memang mengharuskannya untuk mengubah cara lamanya dalam mengoperasikan bisnis di bidang penjualan, menghasilkan dorongan uang cepat, yang sekarang dapat ia gunakan untuk berinvestasi kembali dalam bisnis. Namun sebagian pemilik bisnis akan mengatakan bahwa mereka tidak mampu membelinya.

Ironisnya adalah setiap pemilik bisnis yang pernah bekerja sama dengan saya, uang yang mereka butuhkan untuk berinvestasi dalam rangka membawa bisnis mereka ke tingkat berikutnya yang lebih tinggi, sudah ada di dalam bisnis mereka.

Mereka hanya membutuhkan bantuan kami untuk dengan cepat membuka “kran uang” yang sulit ketika berada di “status quo”, yang sebenarnya merugikan mereka.

“Tapi Coach, biayanya terlalu tinggi untuk mengembangkan bisnis saya. Saya tidak mampu membelinya sekarang …” Dan itulah alasan dari pemilik bisnis yang sudah kehilangan 10 kali lipat dari biaya status quo aslinya.

Alasan 3: “Sekarang bukan waktu yang tepat.”

Ini mungkin alasan yang paling merusak dari semuanya. Pemilik bisnis berkata, “Coach, saya tahu saya harus melakukan hal yang berbeda. Saya tahu saya membutuhkan bantuan ahli dari luar untuk melakukannya. Saya tahu bahwa itu akan lebih baik berkali-kali lipat. Hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat. Setelah saya menyelesaikan proyek yang satu ini … Setelah saya membuat ini … Bulan depan … Tahun depan … Tapi tidak sekarang.”

Alasan teesebut, seolah-olah ada waktu yang tepat untuk melakukan apa pun. Wirausaha sukses akan mulai sekarang, saat ini dengan apa pun yang mereka miliki, dan membuat segalanya terjadi.

Secara pribadi, apa yang saya pikir dari ketiga alasan tersebut tadi, dan mendominasi mental adalah satu kata sederhana namun menyeramkan, yaitu TAKUT.

Takut kegagalan: “Apa yang akan mereka katakan jika saya gagal? Akankah mereka mengatakannya kepada saya? Akankah mereka tertawa melihat kegagalan saya?”

Takut kesuksesan: “Apa yang akan mereka pikirkan jika saya berhasil? Apakah mereka akan cemburu? Apakah mereka akan membenci saya? Apakah saya bisa mempertahankannya atau kegagalan akan menimpa saya?”

Takut pada hal yang tidak diketahui: “Apa yang akan terjadi? Monster apa yang mengintai di bayang-bayang? Apa yang saya tahu bahwa saya tidak tahu?”

Jadi bagaimana menurut Anda, tiga alasan tersebut? Apakah ada di antaranya yang memiliki kaitan dengan jiwa Anda? Jika demikian, apa yang akan Anda lakukan, dan kapan?

Ada begitu banyak potensi di sana untuk Anda dalam mengembangkan bisnis Anda, dan saya berharap Anda sukses besar dalam meraihnya.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (198 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *