Wirausaha Sukses Mandiri

Motivational and Inspirational

 - 

Join now: 

Register

 | 

Login

logo

Antisipasi Masalah Arus Kas (Cash Flow)

Antisipasi Masalah Arus Kas (Cash Flow)

Banyak pemilik bisnis hanya memeriksa penghitungan untung dan rugi mereka secara teratur, berpikir dalam hal penjualan dan pengeluaran, tetapi tidak pernah rutin dalam melacak arus kas atau cash flow.

Mengapa tidak semua pemilik bisnis mengawasi arus kas secara konstan? Beberapa survei mengatakan, hanya separoh pemilik bisnis yang menunjukkan bahwa mereka mempelajari dan melacak arus kas secara teratur.

Meskipun sudah banyak pakar bisnis terus-menerus memperingatkan tentang pentingnya memahami arus kas. Namun, mengapa begitu banyak pemilik bisnis mengatakan bahwa mereka tidak melihat arus kas?

Tantangan bagi sebagian besar pemilik bisnis:

Banyak pemilik bisnis berpikir dalam hal penjualan, biaya dan pengeluaran. Namun, arus kas bisnis semuanya selalu terkait dengan alasan waktu dan penundaan. Padahal, mendapat untung bukan berarti mereka punya uang tunai. Oleh karena itu, mereka harus merencanakan, memperkirakan, dan mengelola arus kas untuk memastikan bahwa mereka tidak kehabisan uang tunai.

Untuk beberapa bisnis layanan yang berorientasi konsumen, pelanggan segera membayar dengan uang tunai, cek atau kartu kredit ketika mereka menerima layanan. Beberapa perusahaan, bahkan mungkin tidak perlu mengeluarkan uang untuk inventaris produk, perakitan dan penyimpanan, dan tidak memiliki hutang besar untuk membayar. Jadi, selama pemilik perusahaan menerima lebih banyak penjualan tunai daripada membayar dalam pengeluaran, mereka akan memiliki uang tunai.

Pemilik bisnis seperti ini secara struktural lebih baik daripada banyak orang lain, karena mereka tidak memiliki kerentanan modal kerja. Namun mereka tetap harus hati-hati, memperhatikan saldo kas mereka dengan cermat. Sangat penting untuk memperkirakan penjualan, biaya dan pengeluaran, dan melacak hasilnya untuk menangkap perubahan dengan cepat.

Dua faktor ini membuat bisnis sangat rentan terhadap masalah arus kas:

1. Perusahaan Penjualan Bisnis ke Bisnis (B2B)

Perusahaan yang terlibat dalam penjualan bisnis ke bisnis (B2B), menemukan bahwa pelanggan mereka tidak langsung membayar ketika mereka mendapatkan produk atau layanan. Perusahaan mengirimi mereka faktur, dan pelanggan membayar beberapa minggu atau bulan kemudian. Jadi pemilik bisnis tidak dapat melacak penjualan sendiri; mereka harus melacak penjualan secara kredit, yang menghasilkan piutang, bukan uang di tangan. Setiap uang dalam piutang dagang adalah satu tingkat lebih sedikit di bank.

Pemilik bisnis dapat melihat penghitungan penjualan pada saat tertentu dan transaksi tertentu, mungkin termasuk dalam penghitungan penjualan, tetapi perusahaan tidak memiliki uang. Bisakah itu menutupi biaya dan pengeluaran? Itu butuh uang tunai. Sebut saja arus kas atau modal kerja: Pemilik perusahaan perlu mengatur pengeluaran sambil menunggu pembayaran.

2. Inventaris Produk

Penciptaan inventaris produk, berarti uang terikat untuk membeli barang sebelum pemilik memiliki kesempatan untuk menjualnya. Seorang pemilik toko buku, misalnya, harus membeli inventaris, sebelum seseorang masuk ke toko dsn membeli bukunya.

Sebuah pabrik harus membeli bahan baku dan membayar untuk perakitan. Setiap bisnis produk yang terlibat dalam penjualan melalui toko, harus berurusan dengan membayar pengemasan dan pengiriman sebelum melakukan penjualan. Ada juga pembuatan prototipe dan versi baru yang mahal. Bahkan perusahaan perangkat lunak, harus mengembangkan suatu produk, melakukan perancangan, pengkodean, pengujian, dan lebih banyak pengujian sebelum melakukan penjualan.

Semua biaya produk ini mengambil uang yang sering dihabiskan jauh sebelum terjadi penjualan. Namun, uang itu tidak berakhir dalam penghitungan laba sampai penjualan terjadi. Buku yang dibeli oleh pelanggan seharga Rp. 100.000,- mungkin toko tersebut hanya perlu membayar Rp. 50.000,- Tetapi Rp. 50.000,- itu mungkin telah meninggalkan rekening bank toko, beberapa bulan yang lalu dan hanya muncul di rekening bank setelah seorang pelanggan membeli buku itu.

Dalam hal ini, pemilik bisnis sudah menghabiskan uangnya, dan memeriksa untungnya dengan mengabaikan arus kas nyata.

Penting untuk diingat.

Bagi siapa pun yang menjual produk bisnis-ke-bisnis (B2B), memiliki keuntungan di atas kertas tidak menjamin memiliki uang tunai.

Banyak bisnis yang menguntungkan telah kehabisan uang tunai. Mereka tidak punya cukup uang untuk menutupi biaya dan pengeluaran, karena mereka menunggu terlalu lama dari pelanggan untuk membayar mereka atau mereka memiliki dana yang besar, namun diikat dalam persediaan yang tidak terjual.

Pelajaran arus kas terbaik dan terburuk, hendaknya dapat diambil hikmah intisarinya. Ketika melihat penjualan bulanan meningkat berkali lipat dalam beberapa bulan. Janganlah terburu merayakannya, karena bisa jadi perusahaan baru untung di atas kertas, bukan untung uang tunai, itu bisa membuat perusahaan menuju kebangkrutan sebelum berkembang, karena banyak memiliki piutang.

Oleh karena itu, setiap pengusaha, apalagi yang baru memulai merintis bisnisnya, hendaknya mau mempelajari dan melacak arus kas atau cash flow bisnisnya. Jangan mudah terjebak euphoria dengan keuntungan di atas kertas, jangan merasa bangga dan puas dengan besaran omzet penjualan, namun dalam bentuk piutang, bukannya uang tunai. Selalu ingatlah bahwa Cash is the King!

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Comments

Comments are disallowed for this post.

Type in your comments to post to the forum
Name  required
E-Mail  required
Website

Comments


You must be logged in to post a
video comment.

Search

Video