1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (178 votes, average: 4.99 out of 5)

Loading...

Published on: 25 March, 2007 - 5:30 AM

Berpikir GLOBAL, Bertindak LOKAL

Dear All,

Saya percaya, hampir semua orang diantara kita, pasti sering berbicara mengenai ” era globalisasi”. Saya juga punya banyak rekan dan relasi, para manajer, bahkan para CEO dan Owner perusahaan, yang ketika saya tanyakan ke mana gerangan mereka berharap masa depan pertumbuhan usahanya akan muncul? Wah… mereka berbicara dengan penuh semangat tentang “pasar global”.

Yaa, Pasar Global. Konsep ini memang memiliki daya pikat yang luar biasa prima. Terdapat miliaran pelanggan potensial di luar sana. Produk atau jasa yang sukses di dalam negeri, seharusnya memiliki daya jual yang bagus pula di dunia, setujukah Anda? Tetapi, sebenarnya tidak juga. Tidak selalu yang sukses di dalam negeri, pasti juga sukses di luar negeri atau di dunia. Ini seperti yang sudah banyak dirasakan oleh sebagian perusahaan relasi saya, dari berbagai “curhat bisnis” yang sempat saya dengarkan.

Perlu saya garis bawahi di sini adalah, penting bagi Anda untuk bisa membedakan antara Pasar INTERNASIONAL dan Pasar GLOBAL. Pasar “Internasional” lebih mengacu pada aktivitas luar perbatasan di antara bangsa, dan biasanya bersifat bilateral, misalnya tukar-menukar barang. Sedangkan Pasar “Global” memberikan kesan seakan-akan itu sebuah Pasar “Tunggal”, yang beroperasi di seberang perbatasan nasional.

Memahami perbedaan ini memang penting. Sebab, agar Ekonomi Global…Pasar Global…Pasar Tunggal, satu pasar dapat berfungsi, maka harus ada perdagangan BEBAS TOTAL di antara bangsa-bangsa, di antara negara-negara, termasuk Indonesia ini. Dalam kenyataannya, sungguh masih sangat banyak macam hambatan yang “menakutkan” untuk mewujudkan pasar “global” ini. Sudah siapkah Anda?

Seingat saya, gagasan tentang “globalisasi” ini sudah didengung-dengungkan, dan sudah dijajakan ke se-antero dunia oleh para pakar teori, sejak bertahun-tahun yang lalu. Berbagai macam argumentasi mereka, sebagian besar sudah kita ketahui. Diantaranya adalah persetujuan dagang yang mengharuskan setiap negara untuk mengurangi “proteksionisme”, arus modal yang bisa melaju secara lebih bebas masuk ke dalam negeri, dan keluar seberang perbatasan. Lalu, perusahaan besar dan kuat beroperasi di banyak negara berbeda. Sekali lagi, sudah siapkah Anda?

Pengertian “globalisasi” ini, seakan-akan menunjukkan, bahwa kebutuhan dan keinginan dunia telah dihomogenisasikan! Apakah sudah benar demikian? Tentu saja tidak. Ini jauh dari kebenaran yang bisa diterima. Fakta bahwa kita mampu mengemudikan mobil yang sama, mempunyai kartu kredit yang sama, membeli soft drink yang sama, menggunakan merek telpon seluler yang sama, browsing dengan browser internet yang sama, dan lain sebagainya… itu tidak harus berarti bahwa sekarang telah ada “pusat perbelanjaan global”, dimana setiap orang membeli barang yang sama.

Perlu dipahami di sini adalah, orang juga terus memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Konsumen masa kini memiliki pilihan yang lebih luas daripada sebelumnya. Mereka ini tidak dapat dipaksa untuk menggunakan barang yang sama, kecuali kalau diberikan secara gratis kali… hehehe… Bahkan, jika Anda lihat, cukup banyak bukti bahwa kita ini sedang bergerak ke arah yang berlawanan!

Dalam situasi ekonomi yang sangat maju seperti sekarang ini, konsumen lebih banyak menuntut “individualisasi” dan pembuatan menurut pesanan, dan…secara positif menghindari barang dan jasa tertentu yang sejenis. Mereka ini menginginkan “ke-bhinekaan”, dan bukan “ke-samaan”.

Banyak orang diantara kita, yang sering memperbincangkan “era globalisasi” seakan-akan kawasan-kawasan luas di dunia ini identik semuanya. Lebih parah lagi, ada diantara kita yang begitu yakin “berkiblat” untuk menyerupai negara maju tertentu, sehingga mereka ini menganggap bahwa jaringan informasi akan memungkinkan mereka untuk “berpikir secara global” dalam kenyamanan di kantor mereka. Sehingga, mereka menganggap dapat menentukan harga untuk pasar lain tanpa melakukan administrasi yang sesuai. Dan, pada akhirnya mereka terkejut setelah melihat, bahwa “penjualan global” mereka tidak berhasil… GAGAL.

Nah, dalam skala yang lebih kecil, cukup banyak bukti, bahwa gagasan-gagasan bisnis yang sangat berhasil dengan baik di sebuah daerah tertentu, ternyata tidak bisa diterima begitu saja saat diterapkan di daerah lainnya.

Inilah maksud saya, yang perlu Anda mengerti, yaitu bahwa meskipun ada sejumlah JUDUL yang terkenal dalam skala nasional, mereka ini masih tetap terlampaui oleh suatu PUBLIKASI LOKAL … dan memang sangat diperlukan suatu promosi bisnis di tingkat lokal.

Publikasi secara nasional, mungkin saja memang diperlukan. Tetapi menurut saya, adalah lebih baik dan mengena jika kita melakukan publikasi secara lokal, dengan mempertimbangkan segi tradisi dan budaya setempat, dimana bisnis kita sedang dijalankan.

Situasi dan kondisi masyarakat di Propinsi Jawa Timur, pasti berbeda dengan Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Bali atau propinsi lainnya. Hal yang sama juga berlaku, jika Anda akan mengembangkan bisnis sampai ke berbagai manca negara. Lebih baik dan mengena lagi, jika kita membuat publikasi bisnis kita yang sesuai dengan setiap kota tempat bisnis kita berada.

Inilah sebuah pemikiran paling sukses dalam mengembangkan bisnis. BERPIKIRLAH GLOBAL, dan BERTINDAKLAH LOKAL. Maknailah hal ini secara luas dengan membuka pikiran anda. Rekrutlah orang-orang yang mengenal dan paham pasar bisnis di daerahnya, dan yang mampu menciptakan dan mengembangkannya bagi Anda. Jangan menempatkan pegawai yang selalu bersikap menerka-nerka, beralasan, dan sering bergegas pulang ke rumah!

Yang juga penting untuk Anda ketahui di sini adalah, bahwa sangat tidak masuk akal, jika pemerintah-pemerintah di dunia termasuk Indonesia; akan membiarkan pasar-pasar mereka dibanjiri oleh barang-barang impor luar negeri.

Salah satu hambatan paling nyata bagi terciptanya “pasar global” adalah, begitu banyak pemerintahan; khususnya di negara berkembang seperti Indonesia ini, yang memandang perlu untuk memberlakukan “hambatan-hambatan” yang menakutkan, seperti bea impor, kuota, kontrol tukar-menukar, dan berbagai peraturan yang sengaja dirancang untuk melindungi industri, bisnis, dan pekerjaan lokal.

Bahkan di negeri tercinta ini, sudah ada nuansa KEBANGGAAN NASIONAL, yang digabungkan dengan TEKAD untuk tidak bisa dijadikan “bulan-bulanan” oleh perusahaan multinasional! Oleh sebab itu, Anda juga tidak masuk akal, jika Anda merasa belum siap menghadapi “pasar global”.

Saya ingatkan lagi, yang terpenting di sini adalah: “Berpikirlah secara Global, tetapi Bertindaklah secara Lokal”. Maka Anda akan siap menyambut “pertarungan” bisnis Anda di dunia bisnis internasional, dan memenanginya.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano
Twitter: @Wuryanano
Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

 

 

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (178 votes, average: 4.99 out of 5)

Loading...

«
»

1 thought on “Berpikir GLOBAL, Bertindak LOKAL”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *