1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (192 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 05 May, 2007 - 7:00 PM

Mitos: Guru KEWIRAUSAHAAN dari Akademisi Murni

Dear All,

ENTREPRENEUR… atau Wirausahawan atau Pewirausaha sudah menjadi istilah sangat populer di negeri ini. Berbagai kalangan begitu bersemangat mendengung-dengungkan tentang pentingnya menciptakan Entrepreneur ini. Definisi paling sederhana, menurut saya, tentang Entrepreneur adalah orang yang berani membentuk bisnisnya sendiri, yang tetap semangat dan pantang menyerah mengembangkan usahanya sendiri sehingga memperoleh keuntungan.

Seorang Entrepreneur juga diartikan sebagai orang yang kreatif, penuh semangat, dan pemberani. Dan salah satu motivasinya yang paling kuat adalah ‘ketidaktergantungan’ yang mengartikan tidak ingin diperintah untuk mengerjakan sesuatu oleh orang lain. Entrepreneur adalah orang yang menciptakan AKSI… yang memiliki gagasannya sendiri dan sangat setia mengikuti gagasannya tersebut.

Jika Entrepreneur sudah mendirikan perusahaannya sendiri, maka perusahaannya tersebut merupakan proyeksi dari dirinya sendiri, dan sebuah bentuk pengungkapan jati diri. Beberapa dari mereka ini mengawalinya dari kecil, yang kemudian menjadi besar seiring dengan usaha kerasnya dalam mengembangkan bisnisnya. Meskipun ada Entrepreneur yang tetap saja kecil tidak pernah berkembang dan bertumbuh usahanya.

Bagi mereka yang tetap kecil ini, yang penting adalah mereka bisa bebas berkehendak sesuai kemauannya sendiri, dan tidak diperintah oleh orang lain. Yaa, yang penting bagi Entrepreneur itu adalah KEBEBASAN, meskipun hasil yang diperolehnya dari bisnis sendiri ini jauh lebih kecil dibandingkan gajinya ketika bekerja di perusahaan milik orang lain.

Tetapi bagi Entrepreneur yang mau membangun dan mengembangkan jaringan bisnisnya, berani mengambil resiko, yang tidak mudah dilumpuhkan oleh kemunduran dan kekacauan dalam perjalanan bisnisnya, maka mereka ini dapat cepat sekali membesarkan usahanya.

Meskipun demikian ada satu kesamaan yang saya lihat diantara keduanya, baik entrepreneur yang tetap kecil semenjak muncul, maupun yang cepat membesar bisnisnya … mereka semuanya memiliki hasrat yang sama, yaitu: MENGAWASI. Yaa, mereka lebih senang untuk menjadi pengawas orang lain, mengawasi bisnisnya dan para pegawainya, daripada diawasi oleh orang lain jika mereka bekerja meskipun di perusahaan besar.

Berbagai komunitas wirausaha muncul dan tumbuh bak jamur di musim hujan, menghelat bermacam pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang Entrepreneur sejati. Ini dapat dimaklumi, sepanjang komunitas ini benar-benar berisi para Entrepreneur sejati di dalamnya. Sehingga jika komunitas ini menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk menjadi seorang Entrepreneur, maka itu bisa diharapkan benar-benar berhasil mendidik para peserta menjadi Entrepreneur.

Namun, sekarang inisiatif untuk menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan ini sudah menjadi sebuah asumsi di dalam masyarakat, bahwa kewirausahaan itu dapat diajarkan oleh para akademisi perguruan tinggi, oleh mereka yang telah bergelar master, profesor, atau pun doktor. Mungkin kalau dipandang dari kacamata positif, memang terlihat baik untuk menggerakkan pertumbuhan mental entrepreneurship.

Saya percaya, jika seorang master, profesor atau pun doktor, pasti mampu melakukan pengajaran dan pembelajaran tentang entrepreneurship kepada para peserta didiknya. Para akademisi ini pasti dapat melakukan sejumlah studi kasus sekaligus merancang teori antisipasinya. Saya percaya mereka pasti dapat melakukannya dengan baik.

Namun satu hal ingin saya tanyakan, yaitu apakah para pengajar dari akademisi murni TANPA punya bisnis sendiri ini juga memiliki HASRAT ENTREPRENEUR, yang mana hal ini menjadi sebuah DAYA KEHENDAK paling mendasar bagi seorang Entrepreneur sejati.

Nah, bagaimanakah seorang akademisi murni bisa memahami dan menyampaikan hasrat yang menjadi daya kehendak seorang Entrepreneur kepada peserta didik? Jelas TIDAK BISA. Karena mereka tidak pernah menjalani kehidupan sebagai seorang Entrepreneur secara langsung. Oleh sebab itu, argumentasi bahwa setiap orang mampu menjadi Entrepreneur jika memasuki sekolah formal yang bagus dan mahal, menurut saya itu hanyalah MITOS.

Kenyataan bahwa lulusan sekolah formal, yang telah mengajarkan ‘entrepreneurship’ tidak dapat semuanya menjadi Entrepreneur bahkan banyak yang menjadi pengangguran elit, itu sudah cukup sebagai bukti bahwa ‘semangat kewirausahaan’ tidak dapat dengan mudah diajarkan oleh akademsi murni, karena yang mengajar pun tidak memiliki jiwa entrepreneur, dan ini hanyalah Mitos. Mitos adalah sebuah legenda yang tidak ada bukti kebenarannya.

Semangat Kewirausahaan atau ‘Entrepreneur Spirit’ hendaknya diperkenalkan dan diajarkan oleh mereka yang memang benar-benar menjalani sebagai pelaku bisnis, benar-benar entrepreneur, dan bukan oleh seorang yang tidak pernah menjalani hidupnya sebagai seorang entrepreneur sejati. Karena di dalam entrepreneur spirit ini terdapat hasrat yang menjadi daya kehendak seorang entrepreneur untuk tetap bersemangat maju, dan itu hanya dimiliki oleh seorang entrepreneur sejati. Dan, jika akademisi yang mengajar materi entrepreneurship itu juga seorang entrepreneur sukses … nah itu baru Luar Biasa Prima! Sangat recommended lah.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (192 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *