1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (260 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 29 July, 2008 - 8:00 PM

Kisah Nabi Syits anak Nabi Adam

Nabi Syits, beliau adalah keturunan dari Nabi Adam yang lahir tunggal dari seluruh putra kembarnya. Beliau memiliki wajah yang mirip dengan Nabi Adam. Beliau memiliki kebijaksanaan serta ilmu yang luar biasa. Beliau juga dikenal adil dan taat terhadap perintah Allah SWT.

Oleh karena itu Nabi Syits lah yang ditunjuk sebagai penerus Nabi Adam AS dalam memimpin umat manusia. Beliau menerima perintah khusus berupa suhuf yang berjumlah 50 lembar. Nabi Syits AS adalah anak sholeh hadiah dari Allah SWT atas kesabaran Nabi Adam kehilangan anaknya Habil. Beliau juga merupakan guru dari Nabi Idris As, yang pertama kali mengajarkan membaca dan menulis, ilmu falak, menjinakkan kuda dan lain-lain.

Oleh Allah SWT, Syits diangkat menjadi Nabi karena mempunyai kebijaksanaan terhebat dalam sepanjang masa.

Nabi Syits AS, namanya tidak diabadikan dalam Al-Quran. Namun beliau ada dalam riwayat-riwayat para ulama seperti tafsir Ibnu Katsir. Dan sebagai salah satu rukun iman, kita wajib mempercayai kenabian beliau.

Nabi Syits hidup sekitar tahun 3630 sampai 2718 Sebelum Masehi. Berbeda dengan manusia saat ini yang berumur paling lama 100 tahunan, Nabi Syits hidup ribuan tahun, meninggal pada usia 1042 tahun. Istri Nabi Syits bernama Azura (Hazurah), dari pernikahannya dengan Azura pada usia ke 105 tahun, lahirlah seorang anak bernama Enos.

Nabi Adam A.S memberikan nasihat penting kepada Nabi Syits, antara lain sebagai berikut :

Pertama, “Janganlah kamu merasa tenang dan aman hidup di dunia. Karena aku merasa tenang hidup di surga yang bersifat abadi, ternyata aku dikeluarkan oleh Allah daripadanya.”

Kedua, “Janganlah kamu bertindak menurut kemauan hawa nafsu istri-istri kamu. Karena aku bertindak menurut kesenangan hawa nafsu istriku, sehingga aku memakan buah dari pohon terlarang, lalu aku menjadi menyesal.”

Ketiga, “Setiap perbuatan yang kamu lakukan, renungkan terlebih dahulu akibat yang akan ditimbulkan. Seandainya aku merenungkan akibat suatu perkara, tentu aku tidak tertimpa musibah seperti ini.”

Keempat, “Ketika hati kamu merasakan kegamangan akan sesuatu, maka tinggalkanlah ia. Karena ketika aku hendak makan syajarah, hatiku merasa gamang, tetapi aku tidak menghiraukannya, sehingga aku benar-benar menemui penyesalan.”

Kelima, “Bermusyawarahlah mengenai suatu perkara, karena seandainya aku bermusyawarah dengan para malaikat, tentu aku tidak akan tertimpa musibah.”

Cerita Nabi Syits dalam Versi Jawa

Nabi Adam sangat menyayangi Syits, sehingga kemudian Nabi Adam memohon kepada Allah agar suatu saat nanti Syits menjadi penguasa atas keturunan saudara-saudaranya. Ketika Nabi Adam berdoa, Ngajajil mendengarnya. Maka Iblis itu berhasrat untuk mencampurkan darah keturunannya dengan darah Syits.

Di ruang peradunan, Dewi Mulat, yaitu istri Syits saat itu sedang tidur lelap. Adanya kesempatan tersebut digunakan oleh Ngajajil untuk menukar Dewi Mulat dengan putrinya yang bernama Dewi Dlajah. Karena Dewi Dlajah memiliki wajah serupa dengan Dewi Mulat, Syits yang menyaksikan istrinya hanya mengenakan gaun tembus pandang itu, sontak terbakar gairah kelakiannya. Syits menyetubuhi Dlajah. Seusai benih kehidupan dipancarkan Syits ke dalam rahim Dlajah, Ngajajil menukar putrinya itu dengan Mulat. Belum puas sekali bersegama, Syits kembali memancarkan benih kehidupan ke dalam rahim Mulat.

Waktu terus berjalan, hingga lahirnya putra-putra Syits. Dari rahim Mulat, lahirlah bayi laki-laki normal dan cahaya berkilauan. Dari rajim Dlajah, lahirlah gumpalan darah yang berkilauan. Oleh Ngajajil, gumpalan darah itu disatukan dengan cahaya berikilauan dari rahim Mulat.

Putra Mulat diberi nama Sayid Anwas. Putra paduan Mulat dan Dlajah diberi nama Sayid Anwar.

Di masa kecilnya, Sayid Anwas yang dikaruniai wajah yang tampan itu diasuh oleh Nabi Adam. Sedang Sayid Anwar yang berparah mempesona itu diasuh oleh Ngajajil. Sebagai putra yang terberkati, kedua putra Syits tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa.

Yang berbeda antara keduanya adalah, jika Sayid Anwas menyenangi ilmu agama, sedangkan Sayid Anwar menyenangi laku tirakat dan bertapa.

Sayid Anwar yang telah menginjak usia dewasa, bertanya kepada Ngajajil, “Sebenarnya siapa ayahku, kek?” Ngajajil pun menjawab “Ketahuilah, cucuku, kau masih keturunan Syits.”

Kemudian Ngajajil menghirup napas panjang sebelum menghembuskan kuat-kuat. “Kalau kau ingin bertemu dengan ayahmu. Maka carilah Syits, putra mantuku itu.”

Mendengar penuturan Ngajajil, Sayid Anwar segera berpamitan. Mencari Syits. Setelah bertemu dengan Syits, awalnya Syits tidak mengakui Sayid Anwar sebagai putranya. Tapi setelah mendapatkan terang batin dari Allah, Syits merangkul Sayid Anwar. Rangkulan haru antara ayah dan putranya.

Seperti Sayid Anwas. Sayid Anwar kemudian hidup di bawah asuhan Adam. Oleh sang kakek, Sayid Anwar mendapatkan pesan agar tidak meminum air kehidupan. Namun pesan itu dilanggarnya. Karena itu Sayid Anwar diusir pergi oleh Adam.

Dengan penuh rasa kecewa, Sayid Anwar akhirnya pergi meninggalkan Adam untuk berkelanan. Di tengah perjalanan, Sayid Anwar bertemu dengan malaikat Harut dan Marut, yang menyesatkannya ke arah tepian sungai Nil. Di tepian sungai Nil tersebut, ia bertemu dengan beberapa anak adam lainnya.

Kepada paman-pamannya, Sayid Anwar belajar ilmu laduni, yang dapat melihat masa depan dan juga berbagai ilmu lainnya. Sesudah mendapatkan cukup bekal ilmu, Sayid Anwar melanjutkan perjalanan ke arah Lemah Dewani, yang terletak di antara pulau Maldewa dan Laksdewa. Di pulau kecil tersebut, Sayid Anwar melakukan tapa brata, yang melihat matahari dari terbit hingga terbenam. Setelah tujuh tahun bertapa, Sayid Anwar dapat menundukkan bangsa jin.

Mengetahui bahwa bangsa jin telah dikalahkan oleh Sayid Anwar, Prabu Naradi, penguasa di sana, merasa terancam kekuasaannya, melabrak dan mengajak Sayid Anwar untuk berduel. Dalam pertarungan itu, Prabu Naradi mengalami kekalahan. Sesudah turun tahta, Prabu Naradi mengangkat Sayid Anwar sebagai Raja Jin dan menyerahkan putrinya sebagai permaisuri. Ketika telah menjadi raja, Sayid Anwar memiliki gelar Prabu Nurasa.

Prabu Nurasa akhirnya tinggal abadi di tempat yang tinggi (kahyangan), lalu meminta izin kepada Allah, Tuhan sebagai Penguasa Alam Semesta. Tuhan mengabulkan doa Nurasa untuk menjadi seorang murtad dari ajaran keturunan Adam. Ketika menjadi raja, Lemah Dewani diubah menjadi Tanah Jawi (Tanah Jawa) oleh Prabu Nurasa.

Dari Prabu Nurasa, lahirlah keturunan-keturunan yang akan menjadi raja di Tanah Jawa. Berikut ini merupakan urutan garis keturunan dari Prabu Nurasa :

    • Sang Hyang Manikmaya
    • Sang Hyang Brama
    • Brahmani
    • Abiyasa
    • Pandu
    • Arjuna
    • Abimanyu
    • Parikesit
    • Udayana
    • Grendayana
    • Jayabaya
    • Jayamilaya
    • Jayamisena
    • Kusumawicitra
    • Citrasoma
    • Pancadriya
    • Anglingdriya
    • Suwelacala
    • Seri Mahapunggung
    • Kandiawan
    • Gentayu
    • Lembu Amiluhur
    • Panji
    • Kuda Lalean
    • Banjaransari
    • Mundingsari
    • Mundingwangi
    • Pamekas
    • Jaka Seseruh
    • Prabu Anom
    • Adaningkung
    • Hayam Wuruk
    • Lambu Amisani
    • Bra Tanjung
    • Brawijaya
    • Bondan Kejawan
    • Getas Pendawa
    • Ki Ageng Sela
    • Ki Ageng Nis
    • Ki Ageng Pemanahan
    • Penembahan Senopati
    • Sultan Agung

Sementara itu di tempat lain, Sayid Anwas, yang tumbuh dewasa dalam asuhan Adam melahirkan manusia manusia yang dimulai dari Nabi Idris, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa sampai pada Nabi Muhammad SAW.

Selain melahirkan keturunan orang sholeh, keturunan Sayid Anwas juga menumbuhkan suku-suku bangsa yang hebat, seperti Israil, Arab, Arya dan bangsa-bangsa besar lainnya.

Sedangkan keturunan Sayid Anwar, karena juga mendapatkan berkah Allah melalui doa Adam, juga banyak melahirkan bangsa-bangsa besar pada masa-masa kerajaan Jawa. Cukup banyak raja-raja keturunan Sayid Anwar yang menguasai bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.

Dalam perputaran peradaban, antara keturunan Sayid Anwar dan Sayid Anwas telah banyak yang mengalami persilangan. Dari persilangan-persilangan inilah yang membuat kehidupan mereka tumpang tindih.

Ada keturunan Sayid Anwas yang kemudian mengikuti jejak pemikiran Sayid Anwar yang sesat. Sebaliknya, tidak sedikit pula keturunan Sayid Anwar yang kembali pada ajaran nenek moyang mereka dan menganut agama yang diajarkan Nabi Adam serta leluhur mereka Nabi Syith.

Namun terlepas dari semua itu, baik keturunan Sayid Anwas maupun keturunan Sayid Anwar sama-sama mempunyai darah superioritas, sehingga dengan izin Allah tidak sedikit dari mereka yang menjadi pemimpin-pemimpin bangsa lainnya di muka bumi ini.

Wallahu a’lam bishshawab

Rahayu…

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (260 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *