1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (162 votes, average: 4.99 out of 5)

Loading...

Published on: 10 June, 2011 - 1:00 AM

Cara Meraih Kebahagiaan dan Sukses Pekerjaan

Ada sebuah pendapat umum, jika saya tidak boleh mengatakannya sebagai keyakinan umum, bahwa seberapa pun kita menikmati pekerjaan kita, cepat atau lambat, kita pasti akan melewati masa-masa tatkala kita merasa jenuh, kurang bergairah pada pekerjaan kita; mungkin sedikit bosan, mungkin merasa kurang puas. Pekerjaan kita tidak lagi menyediakan rasa kepuasan dan pemenuhan diri seperti yang sudah-sudah. Terkadang, mungkin inilah batas dari karier kita.

Sebagian besar orang menafsirkan hilangnya semangat seperti ini sebagai pertanda … pertanda bahwa mungkin kita telah memilih karier yang salah, mungkin kita berada dalam bidang yang salah, dan sudah waktunya untuk mencari pekerjaan baru, yang akan membangkitkan suka cita dan gairah yang pernah kita alami. Tentu saja, kadang-kadang bisa jadi demikian. Namun sebelum buru-buru menelusuri iklan lowongan kerja, mungkin ada baiknya untuk berhenti sejenak, dan meninjau situasi.

Mengalami rasa bosan secara berkala dalam pekerjaan adalah wajar, manusiawi. Ini adalah normal. Kita cenderung membiasakan diri pada keadaan yang dihadapi, dan kadang kehilangan gairah kita. Pada tahun pertama, saat seseorang baru memperoleh pekerjaannya, dia mungkin merasa sangat bersuka cita, dan pencapaian ini mendatangkan rasa terpenuhi dalam dirinya. Akan tetapi, jika Anda mengamati orang tersebut dengan pekerjaan yang sama pada tahun kedua, mungkin akan terlihat perbedaan yang muncul pada diri orang itu.

Prinsip Penyesuaian Diri menyatakan bahwa seperti apa pun sukses atau keberuntungan yang kita alami,  atau sebaliknya, apa pun kesulitan atau tragedi yang kita hadapi; cepat atau lambat, kita cenderung menyesuaikan diri pada keadaan yang baru itu. Dan, pada akhirnya berpaling kembali  pada tataran kebahagiaan yang biasa kita alami dari hari ke hari, dan dari waktu ke waktu.

Dalam sebuah penelitian psikologi, para peneliti menemukan, bahwa dalam waktu enam bulan setelah mengalami kemalangan, atau pun kejadian yang menyenangkan; para subjek penelitian akan kembali pada suasana hatinya seperti biasa, dan tidak tertinggal efek sisa dari kejadian sebelumnya.

Jadi, bisa saja jabatan Anda tiba-tiba dinaikkan menjadi CEO (Chief Executive Officer) untuk memimpin perusahaan, atau bisa saja Anda tiba-tiba mengalami kegagalan yang paling meluluh-lantakkan dalam pekerjaan; namun … dalam waktu kurang dari setahun pun, Anda akan mendapati bahwa Anda kurang lebih sama bahagianya dibandingkan sebelumnya.

Tentu saja ini ada alasannya. Dari sudut pandang teori Darwin, para ahli psikologi evolusioner berpendapat bahwa sifat ini berakar pada masa lalu manusia sebagai spesies makhluk hidup. Sifat ini merupakan suatu kemampuan penyesuaian diri, yang memungkinkan untuk bertahan hidup.

Jadi, jika seseorang selalu merasa bahagia berkat sukses atau pencapaiannya, dan terus menerus berada dalam suasana kegirangan yang mendalam, motivasi orang itu untuk terus mengembangkan kemampuan baru untuk tumbuh dan maju, cenderung akan padam. Hal ini akan mengakibatkan hilangnya inisiatif.

Sebaliknya, jika orang-orang secara alami memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi atau terciut hatinya karena kegagalan atau kehilangan sesuatu; apabila berbulan-bulan dan bertahun-tahun berlalu, dan semua itu tetap melukai mereka sama parahnya dengan hari kejadiannya … hal itu akan melumpuhkan mereka. Dan … itu juga akan mengurangi kemungkinan mereka untuk bertahan hidup, mewariskan kode-kode genetiknya bagi generasi penerusnya.

Inilah sebabnya, mengapa kita membutuhkan hidup yang berimbang. Betapa pun memuaskannya pekerjaan kita, mengandalkan pekerjaan kita sebagai satu-satunya sumber kepuasan adalah suatu kesalahan. Sebagaimana manusia membutuhkan makanan yang bervariasi untuk memasok aneka vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan; begitu pula kita membutuhkan beraneka jenis kegiatan yang dapat memasok rasa nikmat dan kepuasan hidup. Setelah mengetahui bahwa prinsip penyesuaian diri adalah hal wajar, kita dapat mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan sengaja untuk mengembangkan serangkaian kegiatan yang kita sukai.

Jadi, jika sedang melewati masa-masa sulit dalam pekerjaan, kita dapat berpaling pada keluarga kita, teman-teman, hobi, dan minat kita lainnya sebagai sumber-sumber lain kepuasan kita. Jika kita menggeser minat dan perhatian kita pada kegiatan-kegiatan lainnya untuk sementara waktu, pada akhirnya siklus akan mengayun kembali, dan kita dapat kembali bekerja dengan minat dan semangat yang terbarukan.

Jadi, hidup yang bahagia itu seharusnya bervariasi, lebih utuh, dan lengkap. Tidak selayaknya seseorang lebih memusatkan diri hanya pada pekerjaan atau uang. Sehingga dengan demikian, kita dapat menjalani kehidupan ini penuh keberlimpahan dan kebahagiaan sejati.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (162 votes, average: 4.99 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *