1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (242 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...
Published on: February 22, 2014 - 9:00 PM

TAKDIR dan MIMPI

Saya paling senang jika membaca atau mendengar sebuah cerita yang dapat memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Berikut ini adalah cerita, yang powerful bagi saya, yang saya dapatkan pada saat saya belajar NLP (Neuro Linguistic Programing). Kisah ini begitu populer, mungkin Anda sudah pernah membacanya atau pun mendengarnya. Meskipun begitu, saya senang menulisnya di web saya ini, khususnya untuk mengingatkan saya pribadi, tentang memahami Takdir dan Mimpi, terlebih itu adalah Takdir dan Mimpi saya.

Seorang wanita muda pergi ke ibunya dan menceritakan tentang kehidupan yang menurutnya begitu sulit baginya. Dia tidak tahu bagaimana akan menjalaninya dan ingin menyerah. Dia sudah merasa lelah berjuang dan berjuang. Ibunya membawanya ke dapur. Dia mengisi Tiga Panci dengan air. Pada Panci Pertama ia tempatkan Wortel, di Panci Ke Dua, dia tempatkan Telur, dan di Panci Ke Tiga ia tempatkan Biji Kopi. Dia menyalakan kompor, dan membiarkan airnya mendidih, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke anaknya.

Di sekitar dua puluh menit kemudian, ia mematikan kompor. Dia menyisihkan Wortel dan menaruhnya di sebuah mangkuk. Dia mengangkat Telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain. Lalu ia menyendok Kopi dan meletakkannya dalam mangkuk berikutnya.

Kemudian dia beralih ke putrinya, dan bertanya, “Katakan, apa yang kamu lihat, sayang?” “Wortel, Telur, dan Kopi,” jawab putrinya.

Dia membawanya mendekat dan meminta putrinya merasakan wortel. Putrinya merasakan wortel itu menjadi lembut dan lembek. Ibunya kemudian memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur yang mengeras. Akhirnya, ibunya ia memintanya untuk mencicipi kopi yang sudah ditempatkan ke mangkuk lainnya.

Putrinya tersenyum ketika mencicipi rasa kopi dan menghirup aroma kopi semerbak mewangi dan terasa nikmat. Putri kemudian bertanya, “Apa gunanya semua ini, ibu?”

Ibunya menjelaskan bahwa setiap benda-benda telah menghadapi kesulitan yang sama – air mendidih – tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel termasuk benda yang kuat, dan keras. Namun, setelah menjadi sasaran air mendidih, menjadi lemah. Telur telah menjadi rapuh. Kulit luar yang tipis telah melindungi bagian dalam yang cair, tapi setelah lama di dalam air mendidih, isinya yang semula cair menjadi keras. Biji Kopi yang unik. Namun setelah mereka berada di dalam air mendidih, biji kopi telah mengubah air menjadi terasa nikmat dan beraroma harum.

“Sayangku, yang manakah dirimu?” tanyanya kepada putrinya. “Ketika kamu merasakan kesulitan dalam hidupmu, bagaimana kamu menanggapinya? Apakah kamu wortel, telur, atau kopi?”

Pikirkanlah ini:

Yang manakah aku? Aku wortel yang tampaknya kuat? Tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, aku menjadi layu dan kehilangan kekuatanku? Apakah aku telur yang dimulai dengan hati lembut dan cair, tapi dengan adanya kesulitan akhirnya mengalami perubahan dengan panas? Apakah aku yang memiliki semangat hati yang selembut sesegar cairan, tapi setelah datang ujian, misalnya: kematian, perpisahan, kesulitan keuangan atau pun percobaan lainnya, aku berubah menjadi mengeras dan kaku? Apakah tampilanku terlihat sama, tapi di dalam aku menjadi pahit dan sulit dengan semangat kaku dan hati yang mengeras?

Ataukah aku seperti kopi? Kopi benar-benar mengubah air panas – dia berada di dalam keadaan yang membawa kesulitan, rasa sakit, dan kesulitan apa pun – menjadi sesuatu yang sangat indah. Ketika air menjadi panas, kopi melepaskan aroma harum dan rasa nikmat.

“Jika kamu seperti kopi, ketika hal-hal yang paling buruk menimpamu, kamu akan mendapatkan yang lebih baik, dan dapat mengubah situasi di sekitarmu menjadi lebih baik.”, demikian ibunya memberikan gambaran kepada putrinya.

Sahabatku…

Ketika ada kejadian menimpamu adalah yang tergelap dan cobaan terbesar sedang menderamu. Bagaimana Anda menangani semua kesulitan itu? Apakah Anda adalah Wortel, Telur ataukah KOPI?

Ketika saya melihat mimpi saya, saya berdoa agar saya bisa seperti analogi kopi itu, dan saya membawa perubahan lebih baik untuk orang-orang, tempat dan situasinya. Bahwa saya menjauhi hal buruk, dan meninggalkan hal-hal lebih baik untuk berinteraksi, sebagai kekuatan sejati untuk memberitahu orang lain, sehingga pesan yang menyebar adalah pesan kebaikan dan kebermanfaatan.

Saya ingin orang-orang hidup dengan impian mereka, untuk mengalami kehidupan sepenuhnya dengan kebahagiaan. Musuh bersama kita adalah ketidakpedulian, ketakutan, dan keserakahan. Bersama-sama kita bisa tumbuh, dengan membantu orang lain, dan itu sejatinya juga membantu diri sendiri.

Sesungguhnya, kita menjalani kehidupan sesuai takdir dan mimpi kita sendiri. Semoga ALLAH SWT selalu melindungi dan meridhoi apa yang menjadi Takdir dan Mimpi kita semua. Aamiin…

Salam Luar Biasa Prima!

WURYANANO

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (242 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Leave a Comment

Your email address will not be published.