1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (151 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 10 October, 2007 - 1:25 AM

MATI Sakjroning URIP

Mati Sakjroning Urip atau Mati dalam Hidup, adalah suatu ungkapan dari Falsafah Jawa – Kejawen, yang sangat dalam maknanya. Ungkapan ini seringkali dirangkai dengan ungkapan berikutnya, Urip Sakjroning Mati atau Hidup dalam Mati.

Paham Filosofi Jawa – Kejawen meyakini adanya 5 (lima) tempat pengembaraan manusia. Tempat Pertama, adalah Tempat Asal yang disebut Alam Ruh. Di Alam Ruh ini semua ruh berkumpul. Jika Gusti berkehendak menugaskan satu ruh untuk turun ke bumi, maka diperintahkan dewa atau malaikat meniupkan ruh ke dalam janin seorang ibu yang merupakan Tempat Kedua.

Sebelum ditiupkan, dibuatlah perjanjian antara ruh dengan Gusti tentang keEsaan Tuhan (Sang Hyang Tunggal), keMahakuasaan Gusti (Sang Hyang Wenang), Pengertian baik dan buruk, Tugas-tugas di dunia dan alam raya.

Bagaikan sebuah pertunjukkan sandiwara, Sang Dalang Maha Sutradara memberikan briefing mengenai peran yang akan dilakoni oleh sang ruh, dan semua itu dituliskan dalam sebuah Kitab, yang dalam cerita wayang dijaga oleh para dewa dipimpin oleh Betara Indra, sedangkan yang Islam meyakini dijaga oleh Malaikat.

Kelahiran Sang Jabang Bayi membawa ruh memasuki Tempat Ketiga yaitu kehidupan di dunia. Di Tempat Ketiga ini, manusia diuji apakah taat dan teguh dalam perjanjian, serta menjalankan peran sesuai skenario yang telah digariskan. Untuk itu Gusti memberikan mandat kepada setan – jin buat menggoda. Menciptakan hawa nafsu serta pesona dunia, guna menguji apakah manusia goyah imannya atau tidak.

Apakah manusia benar-benar memainkan peran dengan baik selaku pemimpin di dunia, selaku wakil dan utusan Sang Pangeran Yang Maha Agung, ataukah lalai lantaran asyik sendiri bersama rayuan setan dan buaian hawa nafsu, tenggelam dalam gemerlap pesona dunia? Asyik sendiri dalam godaan harta, tahta, kekuasaan dan sang rupawan?

Apakah tatkala singgah sejenak untuk “mampir ngombe”, sudah “amemayu hayuning bhawana”, melestarikan dan menegakkan rahmat bagi alam semesta dengan segenap isinya, ataukah justru menghancurkannya; menebang hutan, mengaduk bumi, menggempur gunung sesuka hati, membunuh sesama makhluk guna memuaskan dahaga angkara murka dan keserakahan?

Kematian membawa jiwa, yaitu hasil sinergi ruh dan tubuh memasuki Tempat Keempat di Alam Kubur. Di sini boleh beristirahat sejenak sambil menunggu pengadilan akhirat. Tentang Tempat Keempat ini, paham Jawa memaknainya dalam dua aliran.

Aliran Pertama, yang mempercayai bahwa ruh orang sudah meninggal dapat menyaksikan perilaku ahli warisnya di dunia, bahkan masih dapat berkomunikasi secara ghaib. Ia juga membawa serta berbagai kesaktian dan kekuatan ghaibnya, yang dimiliki selama hidup di dunia. Oleh sebab itu, keturunannya selain harus tetap berbakti, juga bisa meminta restu dan pertolongan darinya. Sedangkan meminta tolong kepada ruh maupun balatentara Gusti yang ghaib, menurut penganut paham ini adalah perkara tolong-menolong biasa di antara sesama makhluk Gusti dan tidak berarti menyekutukan Gusti.

Aliran Kedua berpendapat, orang sudah meninggal bisa melihat seni peran ahli warisnya di dunia, namun sudah tak berdaya memperbaiki dengan mengulang kembali seperti anak sekolah ikut ujian ulangan, hanyalah ilmunya yang bermanfaat bagi makhluk lainnya, sedekah dan doa anak-anaknya yang shaleh.

Kedua aliran tersebut memiliki persamaan dalam berbakti kepada keluarga yang sudah meninggal. Oleh karena itu, mereka sama-sama senang melakukan ziarah kubur dan mengirim doa.

Demikianlah, tatkala Sangkakala ditiup, maka peradilan Tuhan dimulai, sepak terjang manusia selama di Tempat Ketiga (di dunia) dinilai. Vonis dijatuhkan dan manusia harus melanjutkan perjalanan ke Tempat Kelima, yaitu Akhirat terdiri dari dua bagian, Surga dan Neraka. Setiap orang akan menerima vonis dengan kunci rumah akhirat, apakah Istana di surga, ataukah neraka.

Kembali pada ungkapan Mati Sakjroning Urip, ungkapan ini merupakan sesanti sekaligus pepeling, nasihat peringatan, bagaimana sebaiknya kita berperilaku di dunia (Tempat Ketiga), agar kelak bisa membangun Istana Akhirat dalam keabadian kita, yakni “Urip Sakjroning Mati”. Orang sudah mati, tidak berarti tamat sama sekali kehidupan ruhnya. Ia hanya pindah dimensi, yang keadaannya ditentukan oleh amal perbuatannya tatkala hidup di dunia.

Kehidupan di dunia dibandingkan dengan kehidupan di alam keabadian, diibaratkan bagaikan seorang pengelana yang singgah sejenak untuk istirahat minum. Tetapi meskipun “hanya sejenak”, banyak hal bisa terjadi. Godaan setan, hawa nafsu dan pesona dunia bisa membuat manusia mabok duniawi, melupakan Sang Maha Kuasa berikut misi dan peran yang diamanahkan untuk dikerjakan sewaktu dalam persinggahan.

Selama di dunia, orang harus memilih seperangkat pakaian dengan segala perhiasannya, dari dua perangkat yang ada. Satu perangkat terlihat sangat gemerlap dan sering dikenakan oleh sebagian besar penguasa. Perangkat ini penuh dengan pernik-pernik antara lain kemungkaran, takabur, riya, kemunafikan dan berbagai sifat, yang dalam tata kehidupan dikategorikan sebagai hal buruk.

Perangkat satunya lagi terlihat amat sederhana dengan pernik-pernik kebaikan, ketaatan, selalu ingat Gusti, ikhlas, sabar, serta berbagai sifat yang dikategorikan sebagai hal baik.

Dengan perangkat pakaian itu, manusia kemudian dihadapkan pada berbagai pesona dunia seperti harta, tahta dan daya tarik lawan jenisnya. Selanjutnya digoda oleh panas dan dingin, lapar dan haus, nikmat dan sengsara, sedih dan bahagia, kesulitan dan kemudahan, keraguan dan keyakinan.

Demi membentengi manusia agar tidak melalaikan amanah yang diembannya, dan senantiasa tegar menjejakkan langkahnya pada jalan Tuhan, ia dibekali mantera hakikat, yang dalam Islam disebutkan: “Inna shalaati wa nusuki wa mahyaya wa mamaati lillahi Rabbil ‘alamin (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata hanya bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam)”. Inilah bekal utama para pengelana kehidupan dalam menapaki jalan Tuhan. Dengan bekal ini, meskipun harus mengemban amanah menebarkan rahmat bagi alam semesta dan segenap isinya, tapi dunia dan akhirat sama saja baginya.

Pesona dunia dengan pakaiannya yang gemerlapan serta berbagai godaan, tidak akan menggangu langkahnya untuk senantiasa tekun dan menaati skenario perjalanannya. Karena dunia dan akhirat hanyalah makhluk Tuhan jua. Dengan keyakinan yang teguh seperti itu, akan memotong dan menghancurkan nafsunya dari segala ketergantungan dan sifat tercela, serta berpaling dari segala makhluk, sampai ia mati dari nafsunya dalam keadaan hidup.

Ia menjadi “suwung”, jiwanya bagaikan berada di alam kekosongan, lantaran ia telah “mati sakjroning urip”, Mati dalam Hidup. Semua yang dipikirkan dan dikerjakan, semua yang “dimiliki” sebagai titipan Gusti, sungguh semata-mata karena dan bagi Gusti.

Ketika puncak ke-hening-an tercapai, orang serasa terjun ke suasana “heneng” atau “sunya”, tenggelam dalam suasana “kedamaian batin sejati, rasa damai yang akut”, yang dikatakan “manjing jroning sepi”, atau “rasa damai yang tak terkatakan”.

Suasana demikian terjadi hanya sesaat, yang digambarkan secara indah dengan kata-kata “tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating supena sumusup ing rasa jati” (ketika tiba di ambang batas kesadaran, hanya seperti kilasan mimpi, kita seolah menyelinap ke dalam rasa sejati).

Di sini makna kedamaian adalah “kekosongan sejati, dimana jiwa terbebas dari beban apa pun”, yang diistilahkan dengan suasana “hening heneng” atau “kedamaian sejati”.

Hidup dan Mati, apa yang ada dalam pikiran, apa yang dikerjakan semata-mata karena Gusti. Sementara pikiran, perbuatan dan badan kasarnya bergerak, maka jiwanya kosong dari segala pesona dunia yang bisa membuatnya menjadi tawanan hawa nafsu dan setan.

Itulah makna hakiki dari ungkapan Mati Sakjroning Urip. Semoga kita semua dianugerahi taufik dan hidayah untuk menghayati serta mengamalkannya, sehingga dapat senantiasa dengan mudah menghambur dalam pelukan Sang Maha Pengasih, Allah SWT.

Wallahu a’lam bish shawab.

Rahayu…
Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (151 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *