1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (175 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 05 November, 2007 - 7:00 AM

Memberi itu INDAH

Seorang guru yang bijak tengah berjalan-jalan santai bersama salah seorang muridnya di sebuah taman.

Sedang asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bekerja di sana, yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.

Sang murid melihat kepada gurunya sambil berujar:

“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, dia akan kehilangan. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”

Guru yang alim dan bijak itu menjawab:

“Muridku, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya raya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang  coba kamu memasukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu.”

Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam  sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak dan pepohonan di sana bersama gurunya, sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan si tukang kebun.

Tak berapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya yang ditinggalkannya sebelum bekerja.

Ketika dia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, dia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.

Saat dia mengeluarkannya, ternyata …. Uang..!!!

Dia memeriksa sepatu satunya lagi, ternyata juga berisi uang..!!

Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah dia tidak percaya dengan penglihatannya. Setelah itu dia memutar pandangannya ke segala penjuru taman, dia tidak melihat seorang pun ada di sana.

Selanjutnya dia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit dan menangis. Dia berbicara dengan suara tinggi. Ia bicara kepada Allah :

“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhanku yang maha pengasih dan penyayang. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan.”

Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.

Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung.

Dan guru yang bijak tsb sudah memasukkan pelajaran kepada muridnya itu.

“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab:

“Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku.”

“Ketika kamu memberi, kamu akan memperoleh kebahagiaan yang lebih banyak dari pada ketika kamu diberi.”

Sang guru melanjutkan pelajarannya.

“Dan ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-macam :

  • Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas dendam, adalah suatu pemberian.
  • Mendo’akan temanmu di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) itu adalah suatu pemberian.
  • Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk darinya, juga suatu pemberian.
  • Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya adalah pemberian juga.

Ini semua adalah pemberian. Supaya kesempatan memberi tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang kaya saja.”

Sahabat. Marilah kita saling memberi, niscaya hidup ini menjadi indah. InsyaAllah.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (175 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *