1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (162 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 15 December, 2013 - 1:00 AM

KESALAHAN Berpikir

Ada sebuah cerita mengenai seorang pria yang mengira dirinya sudah meninggal. Ia mengunjungi dokternya  dan berkata, “Saya pikir, saya sudah mati.” Sang dokter mengkhawatirkan kesehatan mental pasiennya, dan memberinya obat penenang syaraf. Satu bulan kemudian, pria itu kembali ke dokternya, “Saya pikir, saya sudah mati,” katanya lagi. Kali ini sang dokter mengirim pasiennya ke seorang psikiater. Dua bulan berikutnya, ia datang lagi ke dokternya, dan lagi-lagi mengatakan, “Saya pikir, saya sudah mati.”

Sang dokter memeras otak dan ia mendapatkan ide yang cemerlang. “Orang yang sudah meninggal tidak akan berdarah, bukan?” kata dokter kepada pasiennya, yang ternyata juga setuju dengan pendapat sang dokter. Lalu sang dokter mengambil pisau, dan menggores lengan si pasien hingga berdarah. “Yaa Tuhan,” kata si pasien, “Orang yang sudah mati ternyata masih bisa berdarah.”

Makna dari cerita tersebut adalah “Pemikiran kita tidak mudah diubah! Terutama jika kita telah memilikinya dalam waktu yang lama.” Pikiran seperti dalam cerita tersebut sebenarnya sejenis dialog dalam diri yang berlangsung terus menerus. Dialog ini dapat mendorong kita melakukan hal-hal yang hebat, membantu kita memahami situasi dan tantangan baru … atau sebaliknya … membuat kita merusak diri sendiri, seperti cerita tersebut. Meskipun tidak mudah untuk mengubah pemikiran, namun jika ada kemauan kuat dari dalam diri sendiri, perubahan pasti dapat terjadi.

Oleh karena itu, hal pertama yang harus Anda pahami adalah bagaimana Anda menggunakan LABEL DIRI Anda. Yaa, LABEL DIRI adalah hal-hal yang mendeskripsikan atau menjelaskan siapa diri Anda. Bagaimana Anda me-LABEL diri inilah yang perlu Anda mengerti bahwa begitu LABEL DIRI Anda sudah Anda yakini, maka apa pun yang Anda lakukan akan selalu mengarah dan menuju ke LABEL DIRI tersebut. Anda akan menjadi seperti apa yang sudah Anda LABEL-kan pada diri Anda itu. Dan, ketika LABEL DIRI Anda salah, Anda akan tetap saja menuju ke sana.

Seringkali, seseorang menggunakan LABEL sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu. LABEL DIRI yang salah, misalnya: saya terlalu tinggi, terlalu pendek, terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu bersemangat, terlalu pendiam … terlalu banyak alasan untuk menggapai kesuksesan. “Sungguh Ter-La-Lu…” kata Bang Haji Rhoma Irama. Sebenarnya dan memang sebaiknya, kita harus menyingkirkan seluruh LABEL itu, menyingkirkan semua alasan, dan memberanikan diri untuk berpikir besar, berpikir positif bahwa hidup ini sungguh sangat indah untuk dilewatkan begitu saja.

Terkadang, orang-orang terdekat justru memberikan umpan balik dengan menegaskan kelemahan Anda, bahkan menambahkan beberapa kelemahan lainnya. Jika demikian, segera Anda tuliskan kebalikannya, kebalikan dari umpan balik yang negatif tadi, dan jadikan itu sebagai tujuan perubahan pada diri Anda, jika Anda menginginkan adanya perubahan. Saya mengatakan ini, karena mungkin ada beberapa aspek negatif yang tidak ingin Anda ubah. Saya akan memberikan contohnya.

“Saya adalah orang yang tidak terampil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bagi saya, bersih-bersih rumah tampak seperti pekerjaan yang sia-sia, karena debu akan menempel lagi. Hal terakhir yang ingin saya lakukan adalah mengubahnya, karena masih banyak hal lain yang ingin saya lakukan. Saya juga memiliki kelemahan lain, misalnya tidak merapikan berbagai dokumen pribadi, tidak membersihkan meja kerja, dan saya menginginkan segala sesuatu terjadi dengan cepat dalam hidup ini.” Hal-hal seperti inilah yang ingin saya ubah.

Rencanakanlah untuk mengubah seluruh aspek yang ingin Anda ubah. Atau, lupakan saja seluruh kelemahan, dan tonjolkanlah kekuatan Anda. Maksud saya, ada sejumlah cara berbeda dalam berpikir. Saya tidak sekedar memohon Anda untuk berpikir besar, berpikir positif, karena saya menganggap hal seperti itu sangat menghina. Jika seseorang yang memiliki sikap mental positif, berkata kepada Anda, “Hei, cobalah berpikir besar, berpikir positif, masih untung keadaannya tidak lebih buruk daripada ini.” Anda mungkin akan memaki orang itu habis-habisan! Oleh karena itu, kita mesti cukup bijak untuk mengetahui bahwa gaya berpikir yang berbeda, dibutuhkan untuk situasi yang berbeda. Terdapat bermacam-macam gaya berpikir untuk memenuhi berbagai jenis tantangan, dan berpikir besar atau berpikir positif adalah salah satu diantaranya.

Cobalah Anda selidiki, apa yang menjadi dasar kesalahan berpikir, untuk mengetahui apakah hal itu juga terjadi pada Anda, kemudian Anda dapat menggali cara-cara untuk mengubahnya. Hal penting harus Anda ingat adalah pemikiran ini bersifat otomatis. Ia muncul entah dari mana dan masuk ke dalam akal kita, tanpa kita sadari keberadaannya. Pada saat itu, pikiran ini tampak benar, dan karena ia memang bagian dari diri Anda, seperti bernafas, Anda menerimanya begitu saja sebbagai sesuatu yang logis, tanpa mempertanyakan. Namun, jika dihadapkan dengan fakta-fakta, Anda mulai menyadari, betapa tidak logisnya pemikiran tersebut. Coba baca tulisan saya tentang Sirkus Kutu, sebuah analogi bagaimana pikiran yang terus menerus ditanamkan, akan membuat sebuah kebiasaan baru, yang sebenarnya tidak logis.

Anda perlu menemukan kesalahan berpikir seperti apa yang Anda miliki. Ingatlah bahwa LABEL dan KATA-KATA yang Anda gunakan untuk mendeskripsikan situasi, orang lain, dan diri sendiri, memiliki dampak yang sangat penting. Misalnya jika Anda berkata, “Saya benar-benar panik!” atau “Saya tidak berguna sama sekali.” Kalimat dramatis ini memicu respons kecemasan, dan mengubah biokimia tubuh. Untuk mengubah cara berpikir semacam ini, adalah penting untuk mendeskripsikan perasaan dan reaksi seara akurat, karena hal ini membantu mempertahankan kontrol diri dalam suatu situasi.

Ada lagi yang seringkali masuk ke dalam pemikiran kita yaitu “mem-Besar-Besar-kan” atau “mem-Bencana-kan” sesuatu. Saat stres menyerang dan perubahan terjadi di rumah atau tempat kerja, pemikiran-pemikiran semacam ini berkembang. Dan, kita tidak melakukannya dengan sengaja, namun pikiran tentang malapetaka atau sesuatu yang buruk, muncul begitu saja secara otomatis. Apakah kita benar-benar percaya, bahwa apa yang kita alami adalah malapetaka besar seperti yang kita sangka? Jadi, mengapa kita melakukannya? Tidakkah itu semacam pemikiran takhayul belaka?

Kemampuan untuk memodifikasi dan menguasai pemikiran kita menjadi “pemikiran yang berguna”, membuat kita dapat bereaksi lebih tepat dan efektif terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kesedihan atau kejengkelan tidak akan terjadi. Itu pasti terjadi. Namun, pada tahap tertentu kita siap untuk melanjutkan kehidupan dengan lebih baik, dan “pemikiran yang berguna” mempercepat proses itu. Artinya, kita memodifikasi “pikiran-pikiran otomatis lama” untuk menggerakkan kita menuju solusi atas masalah kita. Hidup ini penuh dengan area abu-abu, dan kesalahan yang terjadi tidaklah penting. Kesalahan adalah sesuatu yang berharga.

Ubahlah pemikiran Anda yang salah menjadi pemikiran yang berguna, dengan menggunakan kata-kata yang positif, bukannya, “Saya tidak akan tidak rapi.” Contoh yang lebih baik adalah, “Saya biasanya rapi, dan segalanya akan rapi lagi jika saya menyediakan waktu untuk mengatur barang-barang saya.”

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (162 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *