1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (170 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

Published on: 01 November, 2013 - 10:00 PM

Memaknai Hakikat Guru SEJATI

MENGENAL JATI DIRI

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia? Pertanyaan ini sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci. Jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar-salah. Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan.

Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda.

Manusia lahir dengan konstruksi terdiri dari fisik dan metafisik di dunia.

  • Fisik berupa jasad atau raga,
  • Metafisik adalah roh beserta unsur-unsur yang lebih rumit lagi.

Ilmu Jawa melihat bahwa roh (sukma) manusia memiliki pamomong (pembimbing) yang disebut Pancer atau Guru Sejati.

Guru Sejati berdiri sendiri menjadi pendamping dan pembimbing sukma. Sukma di siram “air suci” oleh Guru Sejati, sehingga sukma menjadi Sukma Sejati.

Di sini tampak Guru Sejati memiliki fungsi sebagai resources atau sumber “pelita” kehidupan. Guru Sejati layak dipercaya sebagai “guru” karena ia bersifat teguh dan memiliki hakekat “sifat-sifat” Tuhan (frekuensi kebaikan) yang abadi konsisten tidak berubah-ubah (kang langgeng tan owah gingsir).

Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa/rasa/sirr merupakan rahsa/rasa/sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci (roh suci). Roh Suci / roh al quds / Sukma Sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan – dalam konteks ini hakikat rasa sejati – maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai “utusan Tuhan”.

Jiwa, hawa atau nafsu yang telah diperkuat dengan sukma sejati adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa/nafs/hawa. Jiwa perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad/raga/organ tubuh manusia. Jiwa yang ditundukkan oleh nafsu hanya akan mengubah karakternya menjadi jahat.

Menurut Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati.

Sebenarnya Guru Sejati  bisa mewujud dalam bentuk “halus”, wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian orang ada yang (secara sengaja atau tidak);

  • Berdialog dengan diri kita sendiri
  • Melihat diri sendiri tampak menjelma menjadi dua, seperti melihat cermin.

Itulah Guru Sejati anda. Atau bagi yang dapat meraga sukma, maka akan melihat kembarannya yang mirip sukma atau badan halusnya sendiri.

Wujud kembaran (berbeda dengan konsep sedulur kembar) itulah entitas Guru Sejati. Karena Guru Sejati memiliki sifat hakekat Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya. Tidak akan menyesatkan.

Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui bisikan hati. Maka anda dapat mencermati suara hati anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.

Namun permasalahannya, jika kita kurang mengasah ketajaman batin, sulit untuk membedakan apakah yang kita rasakan merupakan kehendak hati (kareping rahsa) ataukah kemauan hati atau hawa nafsu (rahsaning karep).

Artinya, Guru Sejati menggerakkan suara hati nurani yang diidentifikasi pula sebagai kareping rahsa atau kehendak rasa (petunjuk Tuhan) sedangkan hawa nafsu tidak lain merupakan rahsaning karep atau rasanya keinginan.

Sarat utama kita bertemu dengan Guru Sejati kita adalah dengan laku prihatin; yakni selalu mengolah rahsa, mesu budi, maladihening, mengolah batin dengan cara membersihkan hati dari hawa nafsu, dan menjaga kesucian jiwa dan raga. Sebab orang yang dapat bertemu langsung dengan Guru Sejati nya sendiri, hanyalah orang-orang yang terpilih dan pinilih.

SEDULUR PAPAT KIBLAT, LIMA PANCER

Dalam proses belajar, banyak pihak yang bisa menjadi Guru Sejati kita, terutama adalah pihak-pihak yang nyata-nyata sudah mengajar kita, yang sudah menjadikan kita menguasai suatu ilmu atau pengetahuan.

Konteks Sedulur Papat sebagai Guru Sejati kita muncul ketika tidak ada lagi pihak yang menuntun dan memberi kita ajaran, sehingga kita harus mempelajarinya sendiri.

Dalam kondisi ini, kita mempelajari sesuatunya sendiri, mengandalkan kecerdasan pikiran dan kecerdasan batin kita sendiri. Dalam kondisi ini interaksi dengan sedulur papat akan lebih intensif, berupa mengalirnya ide dan ilham sebagai inspirasi untuk ditindaklanjuti, walaupun tidak kita sadari bahwa ide dan ilham itu berasal dari para roh sedulur papat.

Sedulur Papat Kiblat, Lima Pancer, diartikan juga sebagai Kesadaran Mikrokosmos. Dalam diri manusia (inner world) sedulur papat sebagai perlambang empat unsur badan manusia yang mengiringi seseorang sejak dilahirkan di muka bumi.

Sebelum bayi lahir akan didahului oleh keluarnya air ketuban atau air kawah. Setelah bayi keluar dari rahim ibu, akan segera disusul oleh plasenta atau ari-ari. Sewaktu bayi lahir juga disertai keluarnya darah dan daging.

Maka sedulur papat terdiri dari unsur kawah sebagai kakak, ari-ari sebagai adik, dan darah-daging sebagai dulur kembarnya. Jika ke-empat unsur disatukan maka jadilah jasad, yang kemudian dihidupkan oleh roh sebagai unsur kelima yakni pancer.

Konsepsi tersebut kemudian dihubungkan dengan hakekat doa; dalam pandangan Jawa, doa merupakan niat atau kebulatan tekad yang harus melibatkan semua unsur raga dan jiwa secara kompak. Maka untuk mengawali suatu pekerjaan dibutuhkan sikap amateg aji (niat ingsun) atau artikulasi kemantaban niat dalam mengawali segala sesuatu kegiatan/rencana/usaha.

Itulah alasan mengapa dalam Tradisi Jawa untuk mengawali suatu pekerjaan berat maupun ringan diawali dengan mengucap;

“Kakang kawah adi ari-ari, kadhangku kang lahir nunggal sedino lan kadhangku kang lahir nunggal sewengi, sedulurku papat kiblat, kelimo pancer, ewang-ewangono aku, saperlu ono gawe.”

MENGOLAH GURU SEJATI

Guru Sejati adalah Rasa Sejati; meretas ke dalam sukma sejati, atau sukma suci, kira-kira sama dengan makna roh kudus (ruh al quds). Kita mendayagunakan Guru Sejati kita dengan cara mengarahkan kekuatan metafisik sedulur papat untuk selalu waspada dan jangan sampai tunduk oleh hawa nafsu. Bersamaan menyatukan kekuatan mikrokosmos dengan kekuatan makrokosmos yakni papat keblat alam semesta yang berupa energi alam dari empat arah mata angin, lantas melebur ke dalam kekuatan pancer yang bersifat Transenden (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Setiap orang bisa bertemu Guru Sejatinya, dengan syarat kita dapat menguasai hawa nafsu negatif; nafsu lauwamah (nafsu serakah; makan, minum, kebutuhan ragawi), amarah (nafsu angkara murka), supiyah (mengejar kenikmatan duniawi) dan mengapai nafsu positif dalam sukma sejati (al mutmainah). Sehingga jasad dan nafs / hawa nafsu lah yang harus mengikuti kehendak sukma sejati untuk menyamakan frekuensinya dengan gelombang Yang Maha Suci.

Sukma menjadi suci tatkala sukma sesuai dengan karakter dan sifat gelombang Dzat Yang Maha Suci, yang telah masuk ke dalam sifat hakekat Guru Sejati. Yakni sifat-sifat Sang Tuhan, Peleburan ini yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti.

Tata cara membangun Sukma Sejati dengan cara ‘Manunggaling Kawula Gusti’ atau penyatuan / penyamaan sifat hakikat makhluk dengan Sang Pencipta.

  • Warangka manjing curigo, yang bermakna manusia masuk kedalam diri Tuhan, ibarat Arya Sena masuk kedalam tubuh Dewa Ruci.
  • Curigo manjing warongko, yang bermakna Tuhan menitis kedalam diri manusia, Ibarat Dewa Wishnu menitis ke dalam diri Prabu Kreshna.

Upaya manunggaling kawula Gusti, segenap dapat dilakukan melalui berbagai ritual seperti berikut ini:

a) Mesu budi,
b) Maladihening,
c) Tarak brata,
d) Tapa brata,
e) Puja brata,
f) Bangun di dalam tidur,
g) Sembahyang di dalam bekerja.

Tujuannya supaya mencapai tataran hakekat yakni dengan meninggalkan nafsu amarah. Kejawen mengajarkan bahwa sepanjang hidup manusia hendaknya semangat dan gigih melakukan kebaikan, membelenggu hawa nafsu hendaknya dilakukan sepanjang hidupnya.

Pencapaian hidup manusia pada tataran tarekat dan hakikat secara intensif akan mendapat anugerah berupa kesucian ilmu makrifat. Suatu saat nanti, jika Tuhan telah menetapkan kehendakNya, manusia dapat ‘menyelam’ ke dalam tataran tertinggi yakni substansi dari manunggaling kawula gusti sebagai ajaran paling mendasar dalam ilmu kejawen khususnya dalam ajaran Syeh Siti Jenar.

Manunggling Kawula Gusti = bersatunya Dzat Pencipta ke dalam diri mahluk. Pancaran Dzat telah bersemayan menerangi ke dalam Guru Sejati, sukma sejati.

Dialog Murid dan Guru perihal GURU SEJATI

Seorang santri mendatangi gurunya dan bertanya,

“Guru…!  Saya pernah membaca sebuah hadits yang sangat terkenal dalam tasawuf, “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhan-Nya. Mohon penjelasannya Guru, agar aku bisa mengenal diri…?”

Gurunya menjawab, “Banyak sekali orang menafsirkan dan menjelaskan hadits di atas, yang intinya jalan paling jelas untuk mengenal Allah itu ya harus mengenal hakekat dirinya sendiri.”

Yang menjadi problema adalah diri yang mana yang harus dikenal…?

Karena banyak sekali orang yang mengkaji hakekat diri, tetapi kebanyakan muter – muter sebatas teori. Setelah faham teorinya mereka sering mengajak berdebat orang lain, kalau dirinya mengklaim sudah hakekat dan makrifat.

Lalu murid tersebut bertanya, “Apa hakekat diri kita Guru…?”

Guru tersebut menjawab. “Hakekat manusia itu adalah Ruh, jasad ini yang ada pada diriku dan dirimu hanyalah sebuah bungkus atau baju yang menutupi Ruh.”

Ruh itu berasal langsung dari tiupan Allah yang dimasukkan ke dalam setiap janin yang rata – rata kurang lebih sudah berumur 120 hari dalam kandungan.

Di dalam al-Qur’an Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya RUH (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” [As Sajdah : 7-10]

Ketika Ruh masuk ke dalam janin, maka berfungsi menjadi beberapa bagian yaitu:

– Ruh yang berfungsi  sebagai daya hidup, sehingga badan yang dimasuki tersebut bisa bernafas, hidup dan bergerak maka disebut dengan  nyawa.

– Ruh yang yang masuk ke dalam otak untuk bisa memilah mana yang baik dan mana yang benar itu disebut dengan pikiran.

– Ruh yang masuk ke tubuh yang berfungsi untuk wadahnya  perbuatan manusia disebut dengan hati. Dalam bahasa arab disebut Qolb karena sering berbolak balik.

– Ruh yang menerima semua dampak dari perbuatan baik dan buruk disebut jiwa. Inilah yang akan mengalami surga dan neraka, sesuai dengan hasil perbuatannya.

– Bagian dari Jiwa yang bisa keluar masuk ke dalam tubuh disebut dengan sukma.

– Ruh yang yang sifatnya membimbing manusia disebut dengan Ruh Idhofi. Wujudnya sama dengan diri kita tapi lebih muda dan bercahaya.

Ruh Idhofi itu adalah Ruh Quddus yang sifatnya suci karena langsung pancaran dari Allah, ibarat pemancar sinyal yang langsung menyambung ke pusat satelit.

Ruh Idhofi itu julukannya banyak, antara lain disebut juga dengan Guru Sejati, Sukma Sejati, Gusti (Bagusnya Hati), Pengeran Sejatining Ingsun (Raja Di Dalam Diri), Hati Nurani, Qolbun Salim (Hati Yang Selamat) dll.

Jika kamu sudah kenal dan mengetahui Ruh Idhofi itu, maka dialah Guru Sejatimu yang akan menuntun kamu dalam menuju Allah. Guru Sejatimu itu yang akan membimbing jiwamu dari jiwa yang paling dasar yaitu Jiwa Ammarah berevolusi menjadi Jiwa Lawwamah, Jiwa Mulhimah, Jiwa Muthmainnah, Jiwa Rodiyah, Jiwa Mardhiyyah dan Jiwa Kamilah.

“Orang yang sudah mencapai Jiwa Kamilah, maka orang tersebut sudah mencapai tahap Muksa, karena telah terbebas dari hawa nafsunya. Mereka adalah para wali Allah yang masuk surga tanpa hisab.”

Murid tersebut bertanya kembali, “Guru… Bagaimana caranya agar saya bisa ketemu Guru Sejati dalam diri saya sendiri…?”

Guru tersebut menjawab, “Kamu cari di Susuwe Angin (Rumahnya Angin). Yaitu di kedua lubang hidung, itulah masuk keluarnya nafas. Dengan cara kamu dzikir atau meditasi nafas yang benar, maka kamu akan ketemu dengan Ruh Idhofi atau Guru Sejatimu.”

“Dan pada diri kalian sendiri, tidakkah kalian memperhatikannya?” [Adz-Dzariyât : 21]

 

TANDA PENCAPAIAN SPIRITUALITAS TINGGI

Keberhasilan mencapai Guru Sejati, apabila kita sudah benar-benar ‘lepas’ dari raga/tubuh. Yakni jiwa yang telah merdeka dari penjajahan jasad. Bukan berarti kita harus meninggalkan segala kegiatan dan aktivitas kehidupan duniawi, itu salah besar. Sebaliknya, kehidupan duniawi menjadi bekal utama meraih kemuliaan baik di dunia maupun kelak setelah ajal tiba.

Seluruh kegiatan dan aktivitas kehidupan duniawi sudah tidak dicemari oleh hawa nafsu. Kebaikan yang dilakukan tidak didasari “pamrih”;

  • Mengharap iming-iming pahala surga,
  • Takut ancaman dosa-neraka.

Melainkan kesadaran akan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan. Kesadaran spiritual bahwa kemuliaan hidup kita apabila kita dapat bermanfaat untuk kebaikan bagi sesama tanpa membeda-bedakan masalah sara. Orang yang memiliki kesadaran demikian, hakekat kehendaknya merupakan kehendak Tuhan. Apa yang dikatakan menjadi terwujud, setiap doa akan terkabul. Ucapannya diumpamakan “idu geni” (ludah api) yang diucapkan pasti terwujud. Kalimatnya menjadi “Sabda Pendita Ratu”, selalu menjadi kenyataan.

Selain itu, tataran tinggi pencapaian “ilmu batin/spiritual” dapat ditandai apabila kita dapat menjumpai wujud “diri” kita sendiri, yang tidak lain adalah Guru Sejati kita. Lebih dari itu, kita dapat berdialog dengan Guru Sejati untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya, petuah dan petunjuknya. Guru Sejati berperan sebagai “mursyid” yang tidak akan pernah bicara omong kosong dan sesat, sebab Guru Sejati sejatinya adalah pancaran dari gelombang Yang Maha Suci.

Di sanalah, kita sudah dekat dengan relung Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, yakni ilmu linuwih, “ibu” dari dari segala macam ilmu, karena mata (batin) kita akan melihat apa-apa yang menjadi rahasia alam semesta, sekalipun tertutup oleh pandangan manusia maupun teknologi.

Tanda-tanda pencapaian itu antara lain, kadang seseorang diizinkan Tuhan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, melalui petunjuk, mimpi, maupun getaran hati nurani. Semua itu dapat merupakan petunjuk Tuhan.

Maka sangat wajar jika di masa silam nenek moyang kita, memperoleh kawaskitan, kemudian menuangkannya dalam berbagai karya sastra kuno berupa; suluk, serat, dan jangka atau ramalan (prediksi). Jangka atau prediksi diterima oleh budaya Jawa sebagai anugerah besar dari Tuhan, terkadang dianggap sebagai peringatan Tuhan, supaya manusia dapat mengkoreksi diri, hati-hati, selalu eling-waspadha dan melakukan langkah antisipasi.

PENTINGKAH GURU SEJATI ?

Pada tingkatan keilmuan yang tinggi, Guru Sejati ini adalah sukma kita atau roh sedulur papat kita sendiri, terutama ketika sudah tidak ada lagi suatu sosok yang dapat mengajar dan membimbing kita.

Ketika masih dalam kondisi awam, roh para sedulur papat akan bersama-sama dengan kita dalam proses belajar (mereka juga ikut belajar), tetapi perkembangan belajar mereka jauh lebih cepat daripada kita, karena secara roh mereka mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui secara fisik dan dapat kemudian memberitahukan pengetahuan mereka kepada kita berupa ide-ide dan ilham atau penglihatan gaib yang mengalir dalam pikiran kita.

Mereka mengerti seluk-beluk kehidupan kita, termasuk pekerjaan kita yang terkait dengan teori dan alat berteknologi tinggi ataupun teori-teori ilmiah tingkat tinggi. Karena itu bila kita aktif memperhatikan interaksi / pemberitahuan dari mereka itu, kita akan lebih mudah dalam mempelajari sesuatu apapun dalam kehidupan kita dan tidak akan menemukan jalan buntu di dalam suatu permasalahan. Mereka akan aktif hadir di dalam perenungan-perenungan.

Keberhasilan berdialog dengan Guru Sejati menandai kemerdekaan jiwa kita dari kungkungan jasad atau raga. Namun bukan berarti kita dapat meninggalkan segala aktivitas dan kehidupan duniawi setelahnya. Salah besar jika setelah bertemu dengan Guru Sejati lantas menganggap bahwa kehidupan nyata tidak perlu lagi dijalani. Justru sebaliknya, apa yang dilakukan di dunia nyata merupakan bekal atau modal utama dalam meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Bedanya, semua yang dilakukan di dunia nyata tidak lagi dicemari oleh hawa nafsu. Kebaikan-kebaikan dilakukan tidak lagi didasari pamrih atau harapan untuk memperoleh balasan pahala-surga atau karena takut ancaman dosa-neraka. Melainkan karena kesadaran bahwa memang hal tersebutlah yang semestinya dilakukan sebagai seorang hamba Tuhan.

Betapa pentingnya Guru Sejati dalam kehidupan kita ini. Pada kehidupan yang penuh dengan marabahaya, kita harus selalu eling dan waspada sebab setiap saat kemungkinan terburuk dapat menimpa siapa saja yang lengah.

  • Guru Sejati akan selalu memberi peringatan kepada kita akan marabahaya yang mengancam diri kita.
  • Guru Sejati akan mengarahkan kita agar terhindar dari malapetaka, dan bagaimana jalan keluar harus ditempuh.
  • Guru Sejati memiliki kewaskitaan luarbiasa, sangat cermat mengidentifikasi masalah, memiliki ketepatan tinggi dalam mengambil keputusan dan jalan keluar. Hal itu karena guru sejati merupakan entitas zat atau energi kebaikan dari Tuhan.
  • Guru Sejati bekerja secara preventif antisipatif, membimbing kita agar supaya tidak melangkah menuju kepada hal-hal yang akan berujung pada kesengsaraan, malapetaka, atau musibah.

“Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. Katimbang melek, becik lungguh. Katimbang lungguh, becik ngadeg. Katimbang ngadeg, becik lumakuo”

RAHAYU…

Catatan: Dirangkum dari berbagai Sumber.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Twitter: @Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (170 votes, average: 5.00 out of 5)

Loading...

«
»

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *